Hasil Rusia Terbuka Grand Prix Gold 2011 Fransiska Ratnasari vs Iris Wang 30 Juni 2011. Tunggal puteri Fransiska Ratanasari lolos ke perempatfinal turnamen bulu tangkis Rusia Terbuka Grand Prix Gold, Kamis (30/6).
Di babak kedua, Fransiska Ratnasari menyingkirkan tunggal puteri asal AS, Iris Wang dalam dua game 21-13 21-4. Nana -panggilan Fransiska- menyingkirkan lawan dalam 27 menit.
Namun di babak perempatfinal, Nana akan menghadapi lawan berat yaitu unggulan 3 Lu Lan. Pemain asal China ini maju ke perempatfinal dengan menyingkirkan pemain Mesir, Hadia Hosny 21-10 21-14.
Keberhasilan Nana diikuti oleh ganda putera Fernando Kurniawan/Wifqi Windarto. Adik kandung Fran Kurniawan ini di babak kedua mengalahkan ganda Rusia, Anton Darbenev/Egor Karpov 21-3 21-8.
Hasil Tenis Perempat final Wimbledon Roger Federer vs Jo-Wilfried Tsonga,Pemenang,juara,video
Kekalahan ini tentu saja sangat menyakitkan, mengingat Federer sudah lebih dulu unggul 2-0. Sayang, pada tiga set terakhir, dia gagal menjegal Tsonga, yang tampil sangat impresif. Ini merupakan kali pertama bagi megabintang Swiss tersebut terjegal di sebuah grand slam, setelah lebih dulu memenangi dua set pembuka.
Kegagalan tersebut menjadi ulangan tahun lalu. Waktu itu, unggulan ketiga tersebut hanya bisa mencapai babak perempat final grand slam lapangan rumput ini. Adapun bagi Tsonga, kesuksesan ini membuat dia menembus semifinal Wimbledon untuk kali pertama. Ia pun akan bertemu unggulan kedua, Novak Djokovic, yang juga meraih tiket babak empat besar guna memperebutkan tiket final.
Pada awal pertandingan, Federer tampaknya bakal dengan mudah melangkah ke babak semifinal. Pada set pertama, mantan pemain nomor satu dunia ini dengan cepat melaju dan unggul 4-1. Ia pun hanya membutuhkan waktu 27 menit untuk menyelesaikan set tersebut.
Pada set kedua, Tsonga, yang untuk kali kedua tampil pada perempat final Wimbledon, bermain lebih solid sehingga Federer cukup kesulitan. Alhasil, laga harus diselesaikan dengan tie-break, yang berkesudahan 7-3 untuk Federer.
Petenis yang wajahnya mirip petinju legendaris Muhammad Ali tersebut kemudian bangkit di tiga set terakhir. Dia melakukan break pada set ketiga untuk unggul 2-1, dan tidak pernah kehilangan servis sehingga bisa menang 6-4. Hal serupa juga terjadi pada dua set kemudian, yang membuatnya menang dengan skor serupa, 6-4, 6-4.
Pada partai perempat final lainnya di Court One, Djokovic menang 6-2, 3-6, 6-3, 7-5 atas pemain muda Australia, Bernard Tomic. Dengan demikian, petenis Serbia yang merupakan pemain nomor dua ini semakin dekat dengan impiannya untuk merengkuh gelar pertama di All England Club, sekaligus menjadi pemain nomor satu dunia.
Ketua Panitia Penyelenggara Sirkuit Nasional (Sirnas) V, Binarto Gani, di Semarang, Rabu (29/6/2011), mengatakan, selain Hermawan, mantan pebulu tangkis nasional lain yang mengikuti kejuaraan itu antara lain adalah Bobby Ertanto. Mereka, menurut dia, bakal turun pada kelompok umur veteran usia 40 hingga 90 tahun.
"Pada kelompok ini mereka turun pada nomor ganda putra. Kalau ganda putri memang tidak ada," katanya.
Menyinggung keikutsertaan pebulu tangkis nasional, dia mengatakan, tunggal putra dan putri seperti Taufik Hidayat, Simon Santoso, Dionysius Hayom Rumbaka, dan Ardiyanti Firdasari, tidak tampil di ajang ini. Pasalnya, para pemain itu tengah mempersiapkan diri tampil di kejuaraan bulu tangkis Indonesia Open Challenge di Surabaya, 19-24 Juli mendatang.
"Kalau tidak salah ada pebulu tangkis nasional yang turun, yaitu Vita Marrisa, hanya saja yang bersangkutan berganti pasangan," katanya.
Ketika ditanya soal jumlah peserta yang tampil pada Sirnas di Semarang ini, Binarto Gani mengatakan, jumlahnya melebihi target karena sekarang ini sudah mencapai lebih dari 1.400 peserta.
Menurut dia, jumlah ini lebih banyak dibandingkan Sirnas V di Tegal 2010. "Kalau di Tegal mempertandingkan kelompok anak-anak, tetapi di Semarang tidak (mulai dari pemula, remaja, taruna, dewasa, dan veteran)," ujarnya.
Ia mengatakan, Sirnas Bulu Tangkis di Semarang ini merupakan pindahan dari Sirnas di Tegal karena Pengprov PBSI Jawa Tengah ibu kota provinsi menjadi pusat event nasional. Apalagi selama ini Sirnas memang selalu digelar di ibu kota provinsi, seperti Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Bengkulu, Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
Video dan Skor Brasil U17 vs Ekuador u17 30 Juni 2011 Perdelapan Final Piala Dunia U17 2011 - hasil,juara,pemenang
Video dan Skor Brasil U17 vs Ekuador u17 30 Juni 2011 Perdelapan Final Piala Dunia U17 2011. Tim Brasil berhasil memastikan satu tempat di babak peremapt final Piala Dunia U17 2011 setelah sukses mengalahkan Ekuador dengan skor 2-0. Brasil yang merupakan favorit juara di turnamen ini selanjutnya akan menghadapi pemenang pertandingan Jepang vs Selandia Baru, yang berlangsung di kemudian hari.Kedua gol Brasil pada babak perdelapan final ini di ciptakan oleh ADEMILSON pada menit ke 16 dan LEO pada menit ke 87.
Bertanding di Estadio Omnilife — Zapopan, Guadalajara, Kamis, 30 Juni 2011, dinihari WIB, kedua belah pihak membiarkan terbang dalam sepuluh menit pertama dari jarak jauh di Estadio Guadalajara, tapi Brasil pertama untuk mendapatkan pemandangan penembakan mereka selaras, membuka skor di menit ke-16. Sebuah film tumit brilian dari Adryan di lini tengah memilih Wallace, yang menarik bola di seluruh daerah tersebut dari kanan ke kiri. Ademilson biarkan terbang dari 25 meter dan meskipun kiper Ekuador Darwin Cuero punya tangan kanannya itu, bola masuk dari bagian bawah posting untuk tujuan keempat striker di Meksiko.
Para Ekuador mengadopsi sikap defensif jelas, bermain permainan berbahaya oleh Gifting kepemilikan Brasil berbakat dan waktu pada bola saat berkemah di setengah mereka sendiri. Namun, di menit ke-35, orang-orang dengan warna biru memiliki kesempatan terbaik mereka untuk mencetak gol. Pada perampokan yang langka maju, Jose Cevallos dilewati oleh manusia di tepi kotak Brasil dan melepaskan tembakan silang dengan kaki kanannya yang Charles berebut untuk mendorong bola di sekitar pos.
Namun, lima menit memasuki babak kedua dan Brasil berada di perjalanan lagi. Ademilson hampir mengambil gol keduanya dari permainan, namun usahanya bobbling dari sudut yang sempit bangkit kembali gawang setelah entah bagaimana eluding Cuero. Para Ekuador berada dalam mood untuk menjadi sedikit lebih berani di babak kedua, meskipun, dan pada jam-tanda Brasil net-minder Charles harus pada bentuk yang terbaik untuk menjaga keluar pengganti Kevin Mercado, yang berlari di belakang pertahanan.
Brasil mulai mengeksploitasi lubang tumbuh di lini belakang Ekuador dan di menit ke-71, Emerson mendapat di ujung pandai memberi-dan-pergi di dalam area, hanya untuk ditolak oleh orang lain menyelamatkan bagus dari Cuero. Dengan tiga menit untuk pergi dalam kontes, meskipun, Selecao memastikan menang mereka ketika Leo mencetak gol pertamanya di turnamen dengan sundulan menjentikkan di pos dekat dari tendangan bebas Adryan baik.
Ekuador kini kepala untuk rumah sementara Brasil perjalanan ke Queretaro dan perempat final bertemu dengan pemenang antara Selandia Baru atau Jepang pada 3 Juli.
Susunan pemain Brasil U17 vs EKuador U17:
Brasil U17: 1-Charles, 2-Wallace (13-Claudio Winck 42'), 3-Marquinhos, 4-Matheus, 5-Misael, 6-Emerson, 8-Marlon Bica, 9-Ademilson, 10-Adryan, 11-Lucas Piazon (16-Hernani 85'), 19-Nathan (20-Leo 61').
Ekuador U17: 12-Darwin Cuero, 2-Jordan Jaime, 3-Marlon Mejia, 4-Ridder Alcivar, 6-Cristian Ramirez, 8-Jonny Uchuari, 9-Luis Batioja (7-Kevin Mercado 55'), 10-Junior Sorniza (20-Dennys Hurtado 74'), 13-Carlos Gruezo, 15-Jose Cevallos, 17-Joel Valencia (16-Kevin Barxol 88').
Video dan Skor Uzbekistan U17 vs Australia U17 30 Juni 2011 Perdelapan Final Piala Dunia U17 2011 - hasil,pemenang,juara
Video dan Skor Uzbekistan U17 vs Australia U17 30 Juni 2011 Perdelapan Final Piala Dunia U17 2011. Uzbekistan sukses melanjutkan langkah mereka di ajang Piala Dunia U17 2011 setelah berhasil mengantam Australia dengan skor telak 4-0. Keberhasilan ini sekaligus menghantar mereka ke babak perempat final.Keempat gol Uzbekistan pada pertandingan tersebut dicetak oleh Abbosbek MAKHSTALIEV (menit ke 11'), Timur KHAKIMOV (menit ke 40'), gol bunuh diri Connor CHAPMAN (menit ke 66'), dan Davlatbek YARBEKOV (menit ke 89').
Bertanding di Estadio Nuevo Corona — Torreón, Guadalajara, Kamis, 30 Juni 2011, diniahari WIB, anak-anak Uzbekistan memegang kendali pertandingan dalam sepuluh menit pertama, memberikan kiper Paul Izzo peringatan awal Asiljon Mansurov mencoba peruntungannya dari luar daerah hanya untuk melihat usahanya berlayar lebar. Uzbekistan tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk menemukan bagian belakang bersih, namun, seperti kapten Abbosbek Makhstaliev mencetak gol ketiganya sebagai banyak pertandingan hanya dalam menit ke-11. Mansurov mengirimkan umpan jarak jauh baik dari tanda setengah ke Makhstaliev, yang pengisian di sisi kanan. Gelandang menggiring bola ke daerah itu dan melepaskan tembakan melewati Izzo untuk memimpin.
Australia tidak mampu untuk mengumpulkan setiap kesempatan nyata di internet Ganisher Kholmurodov itu, dengan Uzbek tampaknya memiliki diurutkan miscues defensif menderita dalam debut final mereka. Uzbekistan tertarik menambah penghitungan hari mereka, dan gaya mereka kontra-menyerang lagi terbayar lima menit sebelum jeda. Sardor Sabirkhodjaev mengalahkan penanda ke garis gawang, dan memasukkannya lulus kembali ke Makhstaliev pada bentuk. Dalam upaya Joeys 'untuk menolak kapten, para pembela Australia tidak dapat menghapus defleksi yang dihasilkan. Khakimov Timur, mengintai di posisi tepat di sisi kiri daerah, mengambil bola lepas dan pulang tembakan rendahnya.
Hari hanya menjadi semakin buruk bagi Australia setelah restart menjadi miliknya Uzbekistan dikendalikan. Meskipun berbandul awal dari Uzbekistan kiper Kholmurodov, Uzbek melaju melalui babak kedua bahkan menikmati keuntungan manusia setelah Dylan Tombides diusir untuk mengatasi kancing-up pada Javlon Mirabdullaev di menit ke-58. Dan delapan menit kemudian, Joeys mengalami pukulan berat seperti Connor Chapman, membela sebuah salib masuk dari Davlatbek Yarbekov, dibelokkan bola ke gawangnya sendiri. Uzbekistan, baik bantalan dengan memimpin tiga gol, menempatkan permainan jauh di menit ke-89 sebagai pengganti Yarbekov dipalu rumah untuk keempat mereka malam.
Ini merupakan akhir yang pahit bagi Australia, karena mereka kehilangan Teeboy Kamara untuk dua peringatan di injury time dan dengan demikian akan mengucapkan selamat tinggal ke Meksiko 2011. Uzbekistan berbaris ke perempat final dan akan menghadapi Kongo atau Uruguay pada tanggal 3 Juli di Monterrey.
Susunan pemain Uzbekistan U17 vs Australia U17:
Uzbekistan U17: 12-Ganisher KHOLMURODOV, 3-Sardor RAKHMANOV, 5-Asiljon MANSUROV, 6-Abbosbek MAKHSTALIEV (15-Jasurbek KHAKIMOV 84'), 7-Azizbek MURATOV, 8-Sardor SABIRKHODJAEV, 9-Kholmurod KHOLMURODOV, 11-Timur KHAKIMOV (17-Dior USMANKHODJAEV 89'), 13-Bobir DAVLATOV (20-Davlatbek YARBEKOV 22'), 14-Javlon MIRABDULLAEV, 18-Muhsinjon UBAYDULLAEV.
Australia U17: 1-Paul IZZO, 2-Jake MONACO, 3-Connor CHAPMAN, 4-Tom KING, 5-Corey BROWN, 7-Hernan ESPINDOLA, 8-Mitch COOPER (19-Mitchell OXBORROW 80'), 9-Dylan TOMBIDES, 11-Luke REMINGTON (15-Anthony PROIA 55'), 17-Jacob MELLING, 21-Riley WOODCOCK (13-Teeboy KAMARA 55').
Pesan Pelaku Bom ATM Bank BNI di Bandung Jln Dipatiukur 30 Juni 2011
Pesan dalam kertas itu seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. Berikut pesan tersebut:
"(Lambang bintang) International Conspiracy for Revenge PT Indomining (BIMA) telah lakukan represi brutal terhadap masyarakat lokal. PT Jogja Mangasa Internasional ingin mengenyahkan 50 ribu petani Kulonprogo. Petani Takalar terancam dirampas lahannya dan semua ini dilakukan secara brutal, termasuk penembakan, teror, pelecehan seksual, serta berbagai penindasan yang tidak pernah kita dengar dari media massa. Tak heran bahwa perusahaan-pemodal-birokrat ini tidak perduli apapun selain hanya menebalkan kantong mereka! Penyerangan kami terhadap ATM (Bank) merupakan target penting dikarenakan bank senantiasa terlibat dalam pendanaan ekstraksi sumber daya alam serta penindasan masyarakatnya atas nama kapital! Kami tidak berniat untuk melukai siapapun, perusakan terhadap benda bukanlah kekerasan! Tiada ampun bagi penindas! Tiada ampun bagi negara dan kapitalisme! Negara, institusi militer, polisi, sert pemodal adalah teroris yang sebenarnya!"
Seperti diberitakan, sebuah anjungan tunai mandiri (ATM) milik Bank BNI di Jalan Dipatiukur, Bandung, meledak dini hari tadi. Tidak ada korban dalam kejadian yang disaksikan dua orang petugas satpam, yaitu Arminto dan Ahmad Sulaeman.
Menurut pantauan Kompas, ATM milik BNI hancur lebur dan seisi ruangan gosong. Pintu aluminium steel ATM terlempar sampai sepuluh meter di depannya. Dua ATM di sebelahnya, yakni milik Bank BJB dan BRI, masih utuh.
Keyword:
Pesan Pelaku Bom ATM Bank BNI di Bandung Jln Dipatiukur 30 Juni 2011, video Bom ATM bank bni 30 juni 2011 dini hari, foto-foto Bom ATM di bandung, isi pesan pelaku bom atm, isi pesan surat di Bom ATM, poto Bom ATM dan surat, berita Bom ATM di bandung, apa isi pesan di surat Bom ATM bandung.
MAKALAH TENTANG RESUME SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA
MEMANDANG FENOMENA BUDAYA DENGAN KACA MATA SEMIOTIK
A. Semiotik Dan Kebudayaan
Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna.De Saussure menggunakan istilah signifiant, untuk segi bentuk suatu tanda.dan signifie hntuk segi maknanya.Dengan demikian, de saussure dan para pengikutnya melihat tanda sebagai sesuatu yang menstukiur dan terstruktur didalam kognisi manusia. Dalam teori de saussure, signifian bukanlah bhnyi bahasa secara konkrit, tetapi merupakan citra tentang bunyi bahasa Dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita dilihat sebagai ” bentuk ” yang mempunyai ” makna ” tertentu. Masih dalam pengertian de saussure, hubunan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, akni didasari oleh ”kesepakatan ”sosial.
De Saussure lebih menekankan pada uraian tentang ” ilmu ” yang mengkaji bahasa secara mandiri, yang disebutnya ” linguistique ” , ia mengemukakan ahwa bahasa adalah sistem tanda – tanda .Disamping itu, dia pun mengemukakan bahwa dimungkinkan adanya suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda- tanda dalam masyarakat. Ilmu semacam itu, ang merupakan bagian dari psikologi sosial, akan dinamai ”semiologie ”, yang akan memperlihatkan apa yang membentuk tanda dan kaidah apa yang berlaku baginya. Karna sifatnya yang mengaitkan dua segi, penanda dan petanda, teori tanda de saussure juga disebut bersifat dikotomis dan struktural.
Charles Sanders Peirce,Dalam teorinya , ”sesuatu ” yang pertama – yang ” konkrit ”- adalah suatu ”perwakilan ” yang disebut representamen, sedangkan ” sesuatu” yang ada didalam kognisi disebut object. Secara garis besar, pemaknaan suatu tanda terjadi dalam bentuk proses semiosis dari yang konkrit kedalam kognisi manusia yang hidup bermasyarakat.Karena sifatnya yang mengaitkan tiga segi, yakni representamen, objek, dan interpretan, dalam suatu proses semiosis, teori semiotik ini disebut bersifat trikotomis.
Danesi dan Perron yang mengembangkan semiotik Pierce, menamakan manusia sebagai homo culturalis, yakni sebaagai makhluk yang selalu ingin memahami makna dari apa yang diketemukannya, makna dalam sejarah merupakan hasil kumulasi dari waktu ke waktu. Dengan demikian, manusia juga mencari makna dengan melihat kesejarah.Disini kta dihadapkan pada makna yang munul secaraberurutan dan kumulatif dalam poros waktu.
B. Semiotik : Ilmu atau Bukan
Secara garis besar kita dapat membedakan semiotik strukturalis yang dikotomis dengan semiotik fragmatis yang trikotomis.Semiotik melihat kebudayaan sebagai sistem tanda yang oleh anggoata masyarakatnya diberi makna sesuai dengan konvensi yang berlaku. Kebanyakan pakar dibidan semiotik melihat semiotik hana sebagai perangkat teori untuk mengkaji tanda, yakni sebagai sistem yang hidup dalam suatu kebudayaan. Namun ada juga yang menganggap sebagai ilmu karena (1) sudah dapat menunjuan dirinya sebagai suatu disipilin yang mandiri,( 2) sudah memiliki perangkat metodologi yang diturunkan dari teorinya,(3) sudah dapat menghasilkan sejumlah hipotesis,( 4) sudah dapat digunakan untuk melakukan prediksi.
C. Metodologi, Metode, Dan Teknik Penelitian Dalam Semiotik
Metodologi adalah cara dalampenelitian untuk memperoleh ” pengertian ” dan ”pemahaman ” dari objek yang kita teliti serta bagaimana pengetahuan dan pemahaman iu memenuhi tujuan penelitian kita. Dalam hal pemilihan, kita dapat menggolongkan data penelitian kulitatif menjadi (1) data auditif, (2) teks,(3) data audiovisual.
Dasar- dasar semiotik struktural adalah sebagai berikut:
(1) Tanda adalah sesuatu yang terstruktur dalam kognisi manusia dalam kehidupan bermasyarakat
(2) Apabila manusia memandang suatu gejala budaya sebagai tanda, maka ia melihatnya sebagai sebuah struktur
(3) Manusia dalam kehidupannya melihat tanda melalui dua poros, yakni sintagmatik dan asosiatif.
(4) Teori adanya bersifat dikotomis
(5) Analisisnya didasari oleh sebagian atau seluruh kaidah – kaidah analisis strukur.
Suatu gejala bahasa dapat dilihat dari dua segi
(1) Segi Sinkroni, yakni melihat gejala itu pada tataran atau kurun waktu tertentu tanpa melihat proses perkembangannya.
(2) Segi Diakroni, yaitu suatu gejala bahasa dapat dipandang dari segi pross perkembangannya.
Derrida membangun teorinya dengan argumen yang bertolak belakang dngan pemikiran Husserl.Bagi Derrida bahasa bersifat memenuhi dirinya sendiri,dan bahkan terbebas dari manusia.Sedangkan Husserl melihat bahasa sebagai bersumber dari ”Suara” manusia yakni dari dalam diri manusia.
Dalam semiotik pragmais berdasarkan hubungan antara representamen dan objeknya ada tiga jenis tanda yaitu:
(1) Ikon adalah tanda yang hubungan antara representamen dan objeknya berdasarkan pada keserupan identitas.
(2) Indeks adalah tanda yang hubungan antara representamen dan objeknya berdasarkan hubungan sebab akibat.
(3) Lambang adalah tanda yang hubungan antara repesentamen dan objeknya didasari oleh konvensi sosial.
Objek kajian semiotik adalah tanda. Dalam mengamati tanda sebagai objek kajian, peneliti melihatnya berdasarkan tiga jenis dimensi, yaitu :
(1) Dimensi Temporal
(2) Dimensi notasional
(3) Dimensi struktural
BAB II
STRUKTURALISME,PRAGMATIK, SEMIOTIK DAN PERKEMBANGANYA
A. Strukturalisme
Strukturalisme sering kali tidak dapat menjelaskan beberapa gejala budaya secara tuntas sehingga diperlukan penjelasan menggunakan semiotik, yakni teori tentang tanda.
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tanda dalam kehidupan manusia.
Melalui buku Piaget, strukturalisme tidak hanya berkembang di Prancis, melainkan juga di luar Prancis khususna di Erofa. Yang menarik bahwa strukturalisme tidak hanya berkembang dibidang linguistik, tetapi telah menjalar kebidang sastra, sejarah, arsitktur, biologi, fisika, botani dan eknomi secara menejemen.
B. Struktur, Sistem, Sintagmatik, Paradigmatik
Struktur adalah sebuah bangunan abstrak yang terdiri atas sejumlah komponen yang berkaitan satu sama lain untuk membentuk struktur itu.Struktur biasanya dibicarakan bersamaan dengan sistem.Struktur tersusun dari sejumlah kmponen yang mempunyai relasi.Relasi itu merupakan suatu jaringan ang secara keseluruhan disebut sistem.Jadi, beda struktur dengan sistem adalah bahwa struktur itu ebuah bangunan, sedangkan sistem adalah jaringan relasi antar komponen.Relasi antar komponen suatu strutur dengan entitas diluar struktur yang bersangkutan disebut relasi asosiatif atau paradigmatik.
C. Perkembangan Strukturalisme
Perkebangan strukturalisme dapat diidentifikasikan sebagai kontuinitas dan evolusi.Greimas mengembangkan strukturalisme melalui teori semantik strukturl. Konsepnya adalah bahwa makna ditandai dengan adnya perbedaan.
D. Perkembangan Strukturalisme dalam Laitan dengan Kajian Budaya
Kebudayaan yang dimiliki manusia mencakup tiga aspek, yakni aspek kognitif, emotif dan hasilnya berupa perilaku atau benda (artepak)
Strukturalisme termasuk perangkat teori yang idealistik karena pada dasarnya pengertian struktur adalah abstrk. Dalam praktiknya memang hampir tadak ada teori yang murni idealistik dan murn materialisik. Strukturalisme melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang tersruktur dan abstrak.Artinya , berbagai ” realitas ” sebenarnya dapat dilihat strukturnya.Struktur ini bersifat absrtak dan berada dalam kognisi manusia.
E. Pragmatik
Diantara dua kutub terdapat seperangkat teori yang berumpu pada tanda dan pemakaiannya.Pemikiran para struturalis atau penerusnya masih idealistik.dalam teori- teori pragmatik, kebudayaan tidak dilihat dari sisi perilaku tetapi juga dari sisi kognisi.
F. Semiotik
Semiotik meihat berbagaigejala dalam suatu kebuayaan sebagai tanda yang dimaknai oleh masyarakatnya. Secara garis besar dalam teori semiotik kita dapat membedakan teori tentang tanda yang bersifat dikotomis dan trikotomis.Dalam menerapkan teori semiotik untuk memahami kebudayaan kita dapat membagi menjadi dua jenis, yakni semiotik sinifikasi dan semiotik komunikasi.
BAB III
DERRIDA DAN STRUKTURALISME DE SAUSSURE
(Sebuah Tinjauan dari Kacamata Linguistik )
A. Ferdinand de seussure dan Srtukturalisme
Dalam kaitan ini ada empat konsep yang perlu kita pahami.
a. Teori sosial tentang bahasa dan tanda bahasa
b. Hubngan relasi antartanda
c. Teori tentang ’’ langue’’dan ’’ parole’’
d. Bahasa yang utama adalah yang lisan
B. Tujuh Kaidah Analisis Struktural
(1) Kaidah imanensi: analisis struktur bersifat tertutup dan berlaku dalam jejaring sistem dengan persfektif sinkronis sebagai dasar.
(2) Kaidah pertinensi: analisi struktur didasari oleh diferensiasi dalam jejaring sistem.
(3) Kaidah komutasi: analisis struktur dilakukan dengan metode oposisi pasangan biner untuk nengidentifikasi makna.
(4) Kaidah kompitibilitas:mengkaji hubungan kesesuaian antar unsur dalam sebuah kombinasi sintagmatik.
(5) Kaidah integrasi: mengkaji hubungan antar unsur bawahan yang harus terintegrasi dengan yang diatasnya.
(6) Kaidah diakronis: analisis strukturl membedakn pendekatan sinkronis dengan diakronis.
(7) Kaidah fungsi: mengkaji makna dan identitas
C. Era Srtukturalisme di Francis
Dekade enam puluhan merupakan masa perkembangannya strukturalisme saat para intelektual tidak lagi menggandrungi filsafat eksistensialisme. Pada masa itu para intelektual dan akademisi makin tidak puas dengan filsafat eksistensialisme karena tidak dapat menawarkan teori dan metodologi yang memuaskan untuk menjawab hal- hal yang berkaitan engan perkembangan kebudayaan.
D. Perkembangan Strukturalisme: ” kontuinitas”
Secara garis besar strukturalisme sebagai teori dasar dalam ilmu pengetahuan sosial budaya berkembang dengan dua cara, yakni kontinuitas dan evolusi.
E. Pekembangan Lanjut Strukturalisme: ”Evolusi Pascastruktural”
Perkembangan strukturalisme evolusi,berarti dalam pemikiran sebuah tokoh terdapat perubahan evolusioner dari kaidah- kaidah strukturalis, namn terlalu naif kalau kita tidak mengemukakan bahwa perkembangan lanjut pada masa pasca srukturalis sekedar sebagai evolusi yang tidak menhasikan perubahan yang lebih mendasar.
Dari apa yang dikemukakan diatas kita sebenarnyaa melihat bahwa perubahan yang terjadi bahkan menjauhi. Dibawah ini beberapa hal yang dapat kita lihat dalam perubahan:
(1) Memandang struktur dan sistem harus secara dinamis, tidak statis
(2) Hubungan signifian- signifie tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk membangun makna
(3) Pemaknaan teks tidak sekedar hasil memahami secara tunggal, tetapi suatu proses.
(4) Kreativitas adalah bagian dari proses produksi teks yang mengikuti jalur intertekstual dan badaniah.
(5) Teks adalah bahasa lisan, bahasa tulis, gambar, bunyi, arsitektur, sistem makanan, sistem busana dan berbagai manifestasi dari kebudayaan.
(6) Dari sosial ke antisosial
BAB IV
BAHASA DAN SASTR DALAM TINJAUAN SEMIOTIK DAN HERMEUNEUTIK
Heurmeuneutik sudah lama digunakan untk mengkaji makna teks yakni i Eropa setidanya sejak abad pertengahan. Titik perhatian linguistik adalah bahasa, sedangkan semiotik memusatkan perhatiannya pada tanda mencangkupi aspek verbal dan non verbal.
1. Semiotik teks dan hermeneutik
Hal pertama yang menonjol dalam semiotik teks adalah dalam berbagai devinisi tentang pengertian teks itu sendiri. Maka sesuai dengan judul dan tujuan tulisan ini teks didevinisikan sebagai suatu satuan kebahasaan. Teks adalah suatu satuan kebahasaan yang mempunyai wujud dan isi atau segi eksperi dan segi isi.
Hermeneutik bertujuan untuk memahami melalui metode abdukkasi bukan hanya menafsirakan.
2. Semiotik,hermeneutik, dan kebudayaan
Pendekatan semiotik mengaitkan tanda dengan kebudayaan, tetapi memberikan tempat yang sentral kepada tanda. Pendekatan hermeneutik menempatkan penafsiran pada posisi sentral. Pendekatan hermeneutik telah memperlihatkan bahwa kaitan makna teks dengan kebudayaan sangat erat dan ini diperlihatkan secara terperinci dan eksplitis.
BAGIAN II
KAJIAN BUDAYA DALAM DINAMIKA MASYARAKAT
BAB 5
DEKONSTRUKSI, GLOBALISASI DAN KREATIVITAS
1. Globalisasi dan masyarakat kita
Globalisasi merupakan akibat perkembangan dalam ekonomi dunia. Dalam hal itu, batas- batas negara secara ekonomi makin pudar dan mungkin hilang sama sekali. Globalisasi adalah suatu proses, bukan suatu pengertian yang statis. Globalisasi juga bukan suatu yang otomatis terjadi. Ia lahir dari prilaku manusiadan gagasan yang lahir dari berbagai interaksi antar manusia, masyarakat, dan negara. Yang pada abad ke-20 yang lalu dimulai dari bidang ekonomi.
Namun sebenarnya globalisasi bukanlah sekedar soal ekonomi. Globalisasi adalah gejala budaya, yakni terbentuknya dan tersebarnya”kebudayaan dunia” diberbagai negara.
2. Mendekontruksi pengertian globalisasi
Setelah mendekontruksi istilah globalisasi, kita perlu mengemukakan pengertian lain, yaitu bahwa globalisasi adalah suatu proses yang terjadi dari arah utara ke selatan melalui berbagai media. Dalam hal ini, kita perlu memaknai ulang sejumlah konsep yang masuk bersama kebudayaan global in. Hanya saja , perlu dicatat bahwa proses konfltual sehingga dilihat sebagai suatu proses dialektika.Disini peran modernitas sangat besar. Namun inhern dengan modernitas adalah kreativitas yang tampaknya telah membawa masyarakat mempunyai kebudayaan yang canggih.
3. Modernitas dan Kreativitas
Modernitas merupakan sesuatu yang endogen. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai sifat yang dinamis.Modernitas dan kreativitas sering kali dihadapkan dengan adat istiadat dan tradisi asal kita.Dalam kaitan ini kita harus berani mendekonstruksi konsep- konsep yang masuk bersama dengan globalisasiyang sudah mentradisi dinegara kita agar kita dapat berreaksi terhadap globalisasi secara lebih sesuai dengan keadaan kita sendiri.
4. Dekonstuksi dan wacana baru
Makin menjadi jelas bahw aglobalisasi adalah suatu gejala yang berkembang menjadi budayakarena kita diberikan pengertian mengenai adanya sesuatu kebudayaan global yang harus kita terima. Dengan melakukan dekonstruksi atas makna istilah globalisasi sebenarnya kita menggunakan individual dan kreativitas untuk menemukan wacan baru. Jadi, upaya mendekonstruksi guna mencari makna baru yang berbeda dengan yang sudah mapan merupakan sikap modern. Jika kita mengikuti sja mekna tentang globalisasi seperti yang dikemukakan selam ini justru kita bersifat konserpatif.
BAB VI
TRNSFORMASI BUDAYA DIPERDESAAN
Transpormasi budaya adalah proses perubahan budaya. Transportasi budya dewasa ini dipecepat dengan adanya proses globalisasi. Kebudayaan internasional itu sangat didominasi oleh kebdayaan negara – negara maju yang menguasai iptek khususnya negara industri.
Yang pertama dikenai pengaruh kebudayaan global adalah kebudayaan nasional. Namun, dalam situasi dewasa ini kebuyaan lokal pun dapat secra langsung memperoleh dampak dari kebudayaan global hal itu karena undang – undang otonomi memungkinkandaerah mengembangkan kehidupan ekonomi, soisal, dan budaya sesuai dengan keinginan pemerintah daerah dan rakyatnya berdasarkan peraturan dan adat yang berlaku.
1. Televisi, pariwisata, industri dan perdagangan
Televisi masuk kedesa dan membawa langsung kebudayaan intrnasional kerumah penduduk desa. Pariwisata merupakan salah stu anggaran devisa. Industrialisasi dan iptek hadir dalam penanaman modal.banyak aspek kebudayaan asing, seperti teknologi, tenaga kerja asing, sistem manjemen dan benda – banda asing secar khusus perlu pula dikemukakan dampak perkrmbangan perdagangan dalmmasyarakat khususnya dikalangan kelas menengah.gejala itu telah pula merebak ke kota kecil bersamaan dengan televisi industri. Dengan demikian, maka desa sedang mengalami proses tranpornasi budaya yang kecepatannya tergantung dari intensitas masuknya kebudayaan internasional kedalam desa itu.
2. Dasar untuk perubahan dari dalam
Apabila transpormnasi terjadi keinginan dari dalam perubahan demi perubahan itu sendiri biasanya jarang terjadi dalam suatu masyarakat. Barnett menemukakan bahwa kwinginan dapat disebabkan oleh tiga alasan :
a. Pertimbangan kreatif
b. Pertimbangan melepaskan diri
c. Pertimbangan bahwa kwdaan yang berlaku tidak memberikan sesuatu yang bernilai
3. Transformasi budaya
Transformas budaya akibat proses globalisasi ternyata tidak dapat kita hindari termasuk dipedesaan. Transformasi budaya dan komunikasi budaya terjadi dengan hasil yang tidak menguntungkan bagi masyarakat atau tidak dirasakan sebagai sesuatu yang diinginkan. Dengan demikian proses transformasi budaya dapat diharapkan memberi keuntungan kepada penduduknya
4. Transformasi budaya dan modernitas
Transformasi budaya adalah perubahan yang didasari oleh keinginan – keinginan suatu masyarakat. Modernitas dapat didevinisikan sebagai kecenderungan seseorang atau kelompok masyarakat untuk menurunkannilai kebiasaan dan adat secara tradisional. Gejala – gejala modernitas yang sudah berkembang dapat dilukiskan sebagai berikut:
a. Modernitas menghasilkan bentuk organisasi yang paling umum
b. Modernitas mengakibatkan meningkatnya peran pranata
c. Terpisahnya waktu dan ruang
d. Perkembangan modernitas pada diri seseorang
e. Modernitas menonjolkan sistem abstrak
5. Pemerintah daerah dan perubahan
Dengan mesuknya kebudayaan internasional baik melalui televisi industrialisasi pariwisata, internet maupun perdagangan kepala desa menghadapi masalah dampak globalisasi dan transformasi sosial budaya. Masuknya konsep – konsep pembangunan ekonomi, teknologi sosial dan politik membawa desa pada perubahan.
BAB VII
ETIKA DAN EKONOMI DALAM KEHIDUPAN MODERN
(Sebuah Tinjauan dari segi kebudayaan)
Ekonomi merupakan salah satu dari tujuah kebudayaan yaitu oeganisasi sosial, sistem pengetahuan, teknologi, sistem mata pencaharian, religi, bahasa dan kesenian. Ekonmi adalah wujud modern dari sistem pencaharian.
A. Ekonomi dan moral
Moral adalah ajaran yang mengacu kepada nilai-nilai yakni tentang baik buruk, khususnya dalam perilaku dengan orang lain. Moral merupakan prinsip-prinsip supra individual yang dihormati masyarakat suatu kebudayaan.
Modal bisa terbentuk dari perubahan budaya yang berkembang di masyarakat khusunya kebudayaan yang dominan. Di dalam seluruh kebijakan pemerintah pertimbangan ekonomi merupakan variael independen, sedangkan faktor budaya merupakan variabel dependen.
B. Etika dan Budaya Ekonomi Modern
Di dalam diri manusia ideal ada etika. Justru etika mestinya melandaaso kehidupan ekonomi, karena ekonomi menyangkut dunia nyata, yakni masyarakat yang warganya berinteraksi sebagai insan ekonomi, insan eika dan insan religius dalam suatu kerangka budaya.
Dalam ilmi filsafat etika adalah kajian tentang hakikat moral. Etika sering dianggap berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lebih mementingkan upaya untuk menggambarkan realitas daripada menentukan soal baik buruk.
Etika bersifat tetap karena mengarahkan moral. Prinsip-prinsip moral dalam ekonomi sudah banyak dibicarakan oleh pakar ilmu sosial, ilmu budaya, dan para budayawan.
Perilaku dalam budaya ekonomi harus beralandasarkan prinsip etika bawha kesejahteraan manusia harus menjadi tujuan
C. Etika dan kesejahteraan manusia
Etika, seperti yang telah dikemukakan di atas adalah apa yang mesti dilakukan atau tidak dilakukan demi kebaikan manusia. Setelah kita mengemukakan bahwa seharusnya fokus perilaku dalam budaya keonomi adalah kesejahteraan manusia dan masyarakat, maka etika dalam budaya ekonomi seharusnya didasari oleh prinsip-prinsip kesejahteraan manusia.
Tujuan ekonomi adalah tujuan masyarakat lahir dan batin. Salah satu kritik terhadap ilmuekonomi adalah karena telah melahirkan kapitalisme karena modal itu penting dalam kegiatan ekonomi.
D. Etika Bisnis
Yang disebut etika dalam bisnis sebenarnya adalah moral yang menyangkut penilaian baik dan buruk dalam berbisnis. Dasar bahwa bisnis wajib mengikuti etika dalam mengamati perilaku perusahaan. Etika bisnis dipegang karena diperlukaannya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan melalui public image yang baik. Public image yang baik adalah untuk menjaga kepercayaan publik. Yang ideal adalah bahwa etika dipegang karena kejujuran dalam hati nurani pemilik dan penyelenggara perusahaan.
BAB VIII
TUBUH DAN BUSANA DITINJAU DARI KACAMATA SEMIOTIK
A. Busana Sebagai Kelanjutan Konsep Telanjang
Busana mempunyai dua fungsi dasar, yang pertama fungsi biologis yakni sebagai pelindung tubuh. Yang kedua fungsi sosial yakni busana sebagai bagian dari tata cara berinteraksi atau bergaul dalam lingkungan sosial. Semiotik mengkaji busana pada fungsi yang kedua, yakni fungsi sosial. Setiap busana yang dikenakan sebagai tanda.
Dalam semiotik struktural busana adalah “penanda” yang mempunyai “petanda” yakni makna tertentu.
Dengan demikian semiotik juga melihat tubuh dan ketelanjangan sebagai penanda yang memiliki petanda tertentu.
Jadi, apabila busana merupakan hal yang diteliti (gejala budaya), maka kita akan mengkajinya dengan melihatnya dari tiga dimensi.
1. Dimensi body, adalah busana sebagai hal yang konkrit dan dipahami bentuk dan fungsinya.
2. Dimensi Mind, adalah bagaimana busana tersebut dipahami maknanya oleh yang memakai atau yang melihat.
3. Dimensi cultur, adalah pemahaman seseorang dan menjadi pemahaman secara sosial masyarakat yang lain.
A. Semiotik Dan Kebudayaan
Semiotik adalah ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Artinya, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna.De Saussure menggunakan istilah signifiant, untuk segi bentuk suatu tanda.dan signifie hntuk segi maknanya.Dengan demikian, de saussure dan para pengikutnya melihat tanda sebagai sesuatu yang menstukiur dan terstruktur didalam kognisi manusia. Dalam teori de saussure, signifian bukanlah bhnyi bahasa secara konkrit, tetapi merupakan citra tentang bunyi bahasa Dengan demikian, apa yang ada dalam kehidupan kita dilihat sebagai ” bentuk ” yang mempunyai ” makna ” tertentu. Masih dalam pengertian de saussure, hubunan antara bentuk dan makna tidak bersifat pribadi, tetapi sosial, akni didasari oleh ”kesepakatan ”sosial.
De Saussure lebih menekankan pada uraian tentang ” ilmu ” yang mengkaji bahasa secara mandiri, yang disebutnya ” linguistique ” , ia mengemukakan ahwa bahasa adalah sistem tanda – tanda .Disamping itu, dia pun mengemukakan bahwa dimungkinkan adanya suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda- tanda dalam masyarakat. Ilmu semacam itu, ang merupakan bagian dari psikologi sosial, akan dinamai ”semiologie ”, yang akan memperlihatkan apa yang membentuk tanda dan kaidah apa yang berlaku baginya. Karna sifatnya yang mengaitkan dua segi, penanda dan petanda, teori tanda de saussure juga disebut bersifat dikotomis dan struktural.
Charles Sanders Peirce,Dalam teorinya , ”sesuatu ” yang pertama – yang ” konkrit ”- adalah suatu ”perwakilan ” yang disebut representamen, sedangkan ” sesuatu” yang ada didalam kognisi disebut object. Secara garis besar, pemaknaan suatu tanda terjadi dalam bentuk proses semiosis dari yang konkrit kedalam kognisi manusia yang hidup bermasyarakat.Karena sifatnya yang mengaitkan tiga segi, yakni representamen, objek, dan interpretan, dalam suatu proses semiosis, teori semiotik ini disebut bersifat trikotomis.
Danesi dan Perron yang mengembangkan semiotik Pierce, menamakan manusia sebagai homo culturalis, yakni sebaagai makhluk yang selalu ingin memahami makna dari apa yang diketemukannya, makna dalam sejarah merupakan hasil kumulasi dari waktu ke waktu. Dengan demikian, manusia juga mencari makna dengan melihat kesejarah.Disini kta dihadapkan pada makna yang munul secaraberurutan dan kumulatif dalam poros waktu.
B. Semiotik : Ilmu atau Bukan
Secara garis besar kita dapat membedakan semiotik strukturalis yang dikotomis dengan semiotik fragmatis yang trikotomis.Semiotik melihat kebudayaan sebagai sistem tanda yang oleh anggoata masyarakatnya diberi makna sesuai dengan konvensi yang berlaku. Kebanyakan pakar dibidan semiotik melihat semiotik hana sebagai perangkat teori untuk mengkaji tanda, yakni sebagai sistem yang hidup dalam suatu kebudayaan. Namun ada juga yang menganggap sebagai ilmu karena (1) sudah dapat menunjuan dirinya sebagai suatu disipilin yang mandiri,( 2) sudah memiliki perangkat metodologi yang diturunkan dari teorinya,(3) sudah dapat menghasilkan sejumlah hipotesis,( 4) sudah dapat digunakan untuk melakukan prediksi.
C. Metodologi, Metode, Dan Teknik Penelitian Dalam Semiotik
Metodologi adalah cara dalampenelitian untuk memperoleh ” pengertian ” dan ”pemahaman ” dari objek yang kita teliti serta bagaimana pengetahuan dan pemahaman iu memenuhi tujuan penelitian kita. Dalam hal pemilihan, kita dapat menggolongkan data penelitian kulitatif menjadi (1) data auditif, (2) teks,(3) data audiovisual.
Dasar- dasar semiotik struktural adalah sebagai berikut:
(1) Tanda adalah sesuatu yang terstruktur dalam kognisi manusia dalam kehidupan bermasyarakat
(2) Apabila manusia memandang suatu gejala budaya sebagai tanda, maka ia melihatnya sebagai sebuah struktur
(3) Manusia dalam kehidupannya melihat tanda melalui dua poros, yakni sintagmatik dan asosiatif.
(4) Teori adanya bersifat dikotomis
(5) Analisisnya didasari oleh sebagian atau seluruh kaidah – kaidah analisis strukur.
Suatu gejala bahasa dapat dilihat dari dua segi
(1) Segi Sinkroni, yakni melihat gejala itu pada tataran atau kurun waktu tertentu tanpa melihat proses perkembangannya.
(2) Segi Diakroni, yaitu suatu gejala bahasa dapat dipandang dari segi pross perkembangannya.
Derrida membangun teorinya dengan argumen yang bertolak belakang dngan pemikiran Husserl.Bagi Derrida bahasa bersifat memenuhi dirinya sendiri,dan bahkan terbebas dari manusia.Sedangkan Husserl melihat bahasa sebagai bersumber dari ”Suara” manusia yakni dari dalam diri manusia.
Dalam semiotik pragmais berdasarkan hubungan antara representamen dan objeknya ada tiga jenis tanda yaitu:
(1) Ikon adalah tanda yang hubungan antara representamen dan objeknya berdasarkan pada keserupan identitas.
(2) Indeks adalah tanda yang hubungan antara representamen dan objeknya berdasarkan hubungan sebab akibat.
(3) Lambang adalah tanda yang hubungan antara repesentamen dan objeknya didasari oleh konvensi sosial.
Objek kajian semiotik adalah tanda. Dalam mengamati tanda sebagai objek kajian, peneliti melihatnya berdasarkan tiga jenis dimensi, yaitu :
(1) Dimensi Temporal
(2) Dimensi notasional
(3) Dimensi struktural
BAB II
STRUKTURALISME,PRAGMATIK, SEMIOTIK DAN PERKEMBANGANYA
A. Strukturalisme
Strukturalisme sering kali tidak dapat menjelaskan beberapa gejala budaya secara tuntas sehingga diperlukan penjelasan menggunakan semiotik, yakni teori tentang tanda.
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tanda dalam kehidupan manusia.
Melalui buku Piaget, strukturalisme tidak hanya berkembang di Prancis, melainkan juga di luar Prancis khususna di Erofa. Yang menarik bahwa strukturalisme tidak hanya berkembang dibidang linguistik, tetapi telah menjalar kebidang sastra, sejarah, arsitktur, biologi, fisika, botani dan eknomi secara menejemen.
B. Struktur, Sistem, Sintagmatik, Paradigmatik
Struktur adalah sebuah bangunan abstrak yang terdiri atas sejumlah komponen yang berkaitan satu sama lain untuk membentuk struktur itu.Struktur biasanya dibicarakan bersamaan dengan sistem.Struktur tersusun dari sejumlah kmponen yang mempunyai relasi.Relasi itu merupakan suatu jaringan ang secara keseluruhan disebut sistem.Jadi, beda struktur dengan sistem adalah bahwa struktur itu ebuah bangunan, sedangkan sistem adalah jaringan relasi antar komponen.Relasi antar komponen suatu strutur dengan entitas diluar struktur yang bersangkutan disebut relasi asosiatif atau paradigmatik.
C. Perkembangan Strukturalisme
Perkebangan strukturalisme dapat diidentifikasikan sebagai kontuinitas dan evolusi.Greimas mengembangkan strukturalisme melalui teori semantik strukturl. Konsepnya adalah bahwa makna ditandai dengan adnya perbedaan.
D. Perkembangan Strukturalisme dalam Laitan dengan Kajian Budaya
Kebudayaan yang dimiliki manusia mencakup tiga aspek, yakni aspek kognitif, emotif dan hasilnya berupa perilaku atau benda (artepak)
Strukturalisme termasuk perangkat teori yang idealistik karena pada dasarnya pengertian struktur adalah abstrk. Dalam praktiknya memang hampir tadak ada teori yang murni idealistik dan murn materialisik. Strukturalisme melihat kebudayaan sebagai sesuatu yang tersruktur dan abstrak.Artinya , berbagai ” realitas ” sebenarnya dapat dilihat strukturnya.Struktur ini bersifat absrtak dan berada dalam kognisi manusia.
E. Pragmatik
Diantara dua kutub terdapat seperangkat teori yang berumpu pada tanda dan pemakaiannya.Pemikiran para struturalis atau penerusnya masih idealistik.dalam teori- teori pragmatik, kebudayaan tidak dilihat dari sisi perilaku tetapi juga dari sisi kognisi.
F. Semiotik
Semiotik meihat berbagaigejala dalam suatu kebuayaan sebagai tanda yang dimaknai oleh masyarakatnya. Secara garis besar dalam teori semiotik kita dapat membedakan teori tentang tanda yang bersifat dikotomis dan trikotomis.Dalam menerapkan teori semiotik untuk memahami kebudayaan kita dapat membagi menjadi dua jenis, yakni semiotik sinifikasi dan semiotik komunikasi.
BAB III
DERRIDA DAN STRUKTURALISME DE SAUSSURE
(Sebuah Tinjauan dari Kacamata Linguistik )
A. Ferdinand de seussure dan Srtukturalisme
Dalam kaitan ini ada empat konsep yang perlu kita pahami.
a. Teori sosial tentang bahasa dan tanda bahasa
b. Hubngan relasi antartanda
c. Teori tentang ’’ langue’’dan ’’ parole’’
d. Bahasa yang utama adalah yang lisan
B. Tujuh Kaidah Analisis Struktural
(1) Kaidah imanensi: analisis struktur bersifat tertutup dan berlaku dalam jejaring sistem dengan persfektif sinkronis sebagai dasar.
(2) Kaidah pertinensi: analisi struktur didasari oleh diferensiasi dalam jejaring sistem.
(3) Kaidah komutasi: analisis struktur dilakukan dengan metode oposisi pasangan biner untuk nengidentifikasi makna.
(4) Kaidah kompitibilitas:mengkaji hubungan kesesuaian antar unsur dalam sebuah kombinasi sintagmatik.
(5) Kaidah integrasi: mengkaji hubungan antar unsur bawahan yang harus terintegrasi dengan yang diatasnya.
(6) Kaidah diakronis: analisis strukturl membedakn pendekatan sinkronis dengan diakronis.
(7) Kaidah fungsi: mengkaji makna dan identitas
C. Era Srtukturalisme di Francis
Dekade enam puluhan merupakan masa perkembangannya strukturalisme saat para intelektual tidak lagi menggandrungi filsafat eksistensialisme. Pada masa itu para intelektual dan akademisi makin tidak puas dengan filsafat eksistensialisme karena tidak dapat menawarkan teori dan metodologi yang memuaskan untuk menjawab hal- hal yang berkaitan engan perkembangan kebudayaan.
D. Perkembangan Strukturalisme: ” kontuinitas”
Secara garis besar strukturalisme sebagai teori dasar dalam ilmu pengetahuan sosial budaya berkembang dengan dua cara, yakni kontinuitas dan evolusi.
E. Pekembangan Lanjut Strukturalisme: ”Evolusi Pascastruktural”
Perkembangan strukturalisme evolusi,berarti dalam pemikiran sebuah tokoh terdapat perubahan evolusioner dari kaidah- kaidah strukturalis, namn terlalu naif kalau kita tidak mengemukakan bahwa perkembangan lanjut pada masa pasca srukturalis sekedar sebagai evolusi yang tidak menhasikan perubahan yang lebih mendasar.
Dari apa yang dikemukakan diatas kita sebenarnyaa melihat bahwa perubahan yang terjadi bahkan menjauhi. Dibawah ini beberapa hal yang dapat kita lihat dalam perubahan:
(1) Memandang struktur dan sistem harus secara dinamis, tidak statis
(2) Hubungan signifian- signifie tidak selalu dapat dijadikan dasar untuk membangun makna
(3) Pemaknaan teks tidak sekedar hasil memahami secara tunggal, tetapi suatu proses.
(4) Kreativitas adalah bagian dari proses produksi teks yang mengikuti jalur intertekstual dan badaniah.
(5) Teks adalah bahasa lisan, bahasa tulis, gambar, bunyi, arsitektur, sistem makanan, sistem busana dan berbagai manifestasi dari kebudayaan.
(6) Dari sosial ke antisosial
BAB IV
BAHASA DAN SASTR DALAM TINJAUAN SEMIOTIK DAN HERMEUNEUTIK
Heurmeuneutik sudah lama digunakan untk mengkaji makna teks yakni i Eropa setidanya sejak abad pertengahan. Titik perhatian linguistik adalah bahasa, sedangkan semiotik memusatkan perhatiannya pada tanda mencangkupi aspek verbal dan non verbal.
1. Semiotik teks dan hermeneutik
Hal pertama yang menonjol dalam semiotik teks adalah dalam berbagai devinisi tentang pengertian teks itu sendiri. Maka sesuai dengan judul dan tujuan tulisan ini teks didevinisikan sebagai suatu satuan kebahasaan. Teks adalah suatu satuan kebahasaan yang mempunyai wujud dan isi atau segi eksperi dan segi isi.
Hermeneutik bertujuan untuk memahami melalui metode abdukkasi bukan hanya menafsirakan.
2. Semiotik,hermeneutik, dan kebudayaan
Pendekatan semiotik mengaitkan tanda dengan kebudayaan, tetapi memberikan tempat yang sentral kepada tanda. Pendekatan hermeneutik menempatkan penafsiran pada posisi sentral. Pendekatan hermeneutik telah memperlihatkan bahwa kaitan makna teks dengan kebudayaan sangat erat dan ini diperlihatkan secara terperinci dan eksplitis.
BAGIAN II
KAJIAN BUDAYA DALAM DINAMIKA MASYARAKAT
BAB 5
DEKONSTRUKSI, GLOBALISASI DAN KREATIVITAS
1. Globalisasi dan masyarakat kita
Globalisasi merupakan akibat perkembangan dalam ekonomi dunia. Dalam hal itu, batas- batas negara secara ekonomi makin pudar dan mungkin hilang sama sekali. Globalisasi adalah suatu proses, bukan suatu pengertian yang statis. Globalisasi juga bukan suatu yang otomatis terjadi. Ia lahir dari prilaku manusiadan gagasan yang lahir dari berbagai interaksi antar manusia, masyarakat, dan negara. Yang pada abad ke-20 yang lalu dimulai dari bidang ekonomi.
Namun sebenarnya globalisasi bukanlah sekedar soal ekonomi. Globalisasi adalah gejala budaya, yakni terbentuknya dan tersebarnya”kebudayaan dunia” diberbagai negara.
2. Mendekontruksi pengertian globalisasi
Setelah mendekontruksi istilah globalisasi, kita perlu mengemukakan pengertian lain, yaitu bahwa globalisasi adalah suatu proses yang terjadi dari arah utara ke selatan melalui berbagai media. Dalam hal ini, kita perlu memaknai ulang sejumlah konsep yang masuk bersama kebudayaan global in. Hanya saja , perlu dicatat bahwa proses konfltual sehingga dilihat sebagai suatu proses dialektika.Disini peran modernitas sangat besar. Namun inhern dengan modernitas adalah kreativitas yang tampaknya telah membawa masyarakat mempunyai kebudayaan yang canggih.
3. Modernitas dan Kreativitas
Modernitas merupakan sesuatu yang endogen. Oleh karena itu, masyarakat mempunyai sifat yang dinamis.Modernitas dan kreativitas sering kali dihadapkan dengan adat istiadat dan tradisi asal kita.Dalam kaitan ini kita harus berani mendekonstruksi konsep- konsep yang masuk bersama dengan globalisasiyang sudah mentradisi dinegara kita agar kita dapat berreaksi terhadap globalisasi secara lebih sesuai dengan keadaan kita sendiri.
4. Dekonstuksi dan wacana baru
Makin menjadi jelas bahw aglobalisasi adalah suatu gejala yang berkembang menjadi budayakarena kita diberikan pengertian mengenai adanya sesuatu kebudayaan global yang harus kita terima. Dengan melakukan dekonstruksi atas makna istilah globalisasi sebenarnya kita menggunakan individual dan kreativitas untuk menemukan wacan baru. Jadi, upaya mendekonstruksi guna mencari makna baru yang berbeda dengan yang sudah mapan merupakan sikap modern. Jika kita mengikuti sja mekna tentang globalisasi seperti yang dikemukakan selam ini justru kita bersifat konserpatif.
BAB VI
TRNSFORMASI BUDAYA DIPERDESAAN
Transpormasi budaya adalah proses perubahan budaya. Transportasi budya dewasa ini dipecepat dengan adanya proses globalisasi. Kebudayaan internasional itu sangat didominasi oleh kebdayaan negara – negara maju yang menguasai iptek khususnya negara industri.
Yang pertama dikenai pengaruh kebudayaan global adalah kebudayaan nasional. Namun, dalam situasi dewasa ini kebuyaan lokal pun dapat secra langsung memperoleh dampak dari kebudayaan global hal itu karena undang – undang otonomi memungkinkandaerah mengembangkan kehidupan ekonomi, soisal, dan budaya sesuai dengan keinginan pemerintah daerah dan rakyatnya berdasarkan peraturan dan adat yang berlaku.
1. Televisi, pariwisata, industri dan perdagangan
Televisi masuk kedesa dan membawa langsung kebudayaan intrnasional kerumah penduduk desa. Pariwisata merupakan salah stu anggaran devisa. Industrialisasi dan iptek hadir dalam penanaman modal.banyak aspek kebudayaan asing, seperti teknologi, tenaga kerja asing, sistem manjemen dan benda – banda asing secar khusus perlu pula dikemukakan dampak perkrmbangan perdagangan dalmmasyarakat khususnya dikalangan kelas menengah.gejala itu telah pula merebak ke kota kecil bersamaan dengan televisi industri. Dengan demikian, maka desa sedang mengalami proses tranpornasi budaya yang kecepatannya tergantung dari intensitas masuknya kebudayaan internasional kedalam desa itu.
2. Dasar untuk perubahan dari dalam
Apabila transpormnasi terjadi keinginan dari dalam perubahan demi perubahan itu sendiri biasanya jarang terjadi dalam suatu masyarakat. Barnett menemukakan bahwa kwinginan dapat disebabkan oleh tiga alasan :
a. Pertimbangan kreatif
b. Pertimbangan melepaskan diri
c. Pertimbangan bahwa kwdaan yang berlaku tidak memberikan sesuatu yang bernilai
3. Transformasi budaya
Transformas budaya akibat proses globalisasi ternyata tidak dapat kita hindari termasuk dipedesaan. Transformasi budaya dan komunikasi budaya terjadi dengan hasil yang tidak menguntungkan bagi masyarakat atau tidak dirasakan sebagai sesuatu yang diinginkan. Dengan demikian proses transformasi budaya dapat diharapkan memberi keuntungan kepada penduduknya
4. Transformasi budaya dan modernitas
Transformasi budaya adalah perubahan yang didasari oleh keinginan – keinginan suatu masyarakat. Modernitas dapat didevinisikan sebagai kecenderungan seseorang atau kelompok masyarakat untuk menurunkannilai kebiasaan dan adat secara tradisional. Gejala – gejala modernitas yang sudah berkembang dapat dilukiskan sebagai berikut:
a. Modernitas menghasilkan bentuk organisasi yang paling umum
b. Modernitas mengakibatkan meningkatnya peran pranata
c. Terpisahnya waktu dan ruang
d. Perkembangan modernitas pada diri seseorang
e. Modernitas menonjolkan sistem abstrak
5. Pemerintah daerah dan perubahan
Dengan mesuknya kebudayaan internasional baik melalui televisi industrialisasi pariwisata, internet maupun perdagangan kepala desa menghadapi masalah dampak globalisasi dan transformasi sosial budaya. Masuknya konsep – konsep pembangunan ekonomi, teknologi sosial dan politik membawa desa pada perubahan.
BAB VII
ETIKA DAN EKONOMI DALAM KEHIDUPAN MODERN
(Sebuah Tinjauan dari segi kebudayaan)
Ekonomi merupakan salah satu dari tujuah kebudayaan yaitu oeganisasi sosial, sistem pengetahuan, teknologi, sistem mata pencaharian, religi, bahasa dan kesenian. Ekonmi adalah wujud modern dari sistem pencaharian.
A. Ekonomi dan moral
Moral adalah ajaran yang mengacu kepada nilai-nilai yakni tentang baik buruk, khususnya dalam perilaku dengan orang lain. Moral merupakan prinsip-prinsip supra individual yang dihormati masyarakat suatu kebudayaan.
Modal bisa terbentuk dari perubahan budaya yang berkembang di masyarakat khusunya kebudayaan yang dominan. Di dalam seluruh kebijakan pemerintah pertimbangan ekonomi merupakan variael independen, sedangkan faktor budaya merupakan variabel dependen.
B. Etika dan Budaya Ekonomi Modern
Di dalam diri manusia ideal ada etika. Justru etika mestinya melandaaso kehidupan ekonomi, karena ekonomi menyangkut dunia nyata, yakni masyarakat yang warganya berinteraksi sebagai insan ekonomi, insan eika dan insan religius dalam suatu kerangka budaya.
Dalam ilmi filsafat etika adalah kajian tentang hakikat moral. Etika sering dianggap berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lebih mementingkan upaya untuk menggambarkan realitas daripada menentukan soal baik buruk.
Etika bersifat tetap karena mengarahkan moral. Prinsip-prinsip moral dalam ekonomi sudah banyak dibicarakan oleh pakar ilmu sosial, ilmu budaya, dan para budayawan.
Perilaku dalam budaya ekonomi harus beralandasarkan prinsip etika bawha kesejahteraan manusia harus menjadi tujuan
C. Etika dan kesejahteraan manusia
Etika, seperti yang telah dikemukakan di atas adalah apa yang mesti dilakukan atau tidak dilakukan demi kebaikan manusia. Setelah kita mengemukakan bahwa seharusnya fokus perilaku dalam budaya keonomi adalah kesejahteraan manusia dan masyarakat, maka etika dalam budaya ekonomi seharusnya didasari oleh prinsip-prinsip kesejahteraan manusia.
Tujuan ekonomi adalah tujuan masyarakat lahir dan batin. Salah satu kritik terhadap ilmuekonomi adalah karena telah melahirkan kapitalisme karena modal itu penting dalam kegiatan ekonomi.
D. Etika Bisnis
Yang disebut etika dalam bisnis sebenarnya adalah moral yang menyangkut penilaian baik dan buruk dalam berbisnis. Dasar bahwa bisnis wajib mengikuti etika dalam mengamati perilaku perusahaan. Etika bisnis dipegang karena diperlukaannya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan melalui public image yang baik. Public image yang baik adalah untuk menjaga kepercayaan publik. Yang ideal adalah bahwa etika dipegang karena kejujuran dalam hati nurani pemilik dan penyelenggara perusahaan.
BAB VIII
TUBUH DAN BUSANA DITINJAU DARI KACAMATA SEMIOTIK
A. Busana Sebagai Kelanjutan Konsep Telanjang
Busana mempunyai dua fungsi dasar, yang pertama fungsi biologis yakni sebagai pelindung tubuh. Yang kedua fungsi sosial yakni busana sebagai bagian dari tata cara berinteraksi atau bergaul dalam lingkungan sosial. Semiotik mengkaji busana pada fungsi yang kedua, yakni fungsi sosial. Setiap busana yang dikenakan sebagai tanda.
Dalam semiotik struktural busana adalah “penanda” yang mempunyai “petanda” yakni makna tertentu.
Dengan demikian semiotik juga melihat tubuh dan ketelanjangan sebagai penanda yang memiliki petanda tertentu.
Jadi, apabila busana merupakan hal yang diteliti (gejala budaya), maka kita akan mengkajinya dengan melihatnya dari tiga dimensi.
1. Dimensi body, adalah busana sebagai hal yang konkrit dan dipahami bentuk dan fungsinya.
2. Dimensi Mind, adalah bagaimana busana tersebut dipahami maknanya oleh yang memakai atau yang melihat.
3. Dimensi cultur, adalah pemahaman seseorang dan menjadi pemahaman secara sosial masyarakat yang lain.
MAKALAH ILMU PENDIDIKAN TENTANG BELAJAR DAN PEMBELAJARAN METODE BASED LEARNING
makalah ilmu pendidikan yang berjudul "belajar dan pembelajaran metode based learning" ini dikirim oleh Sukma Windyasari dkk Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga copyright 2010. untuk mendownload makalah belajar dan pembelajaran metode base learning versi microsoft word lihat link di akhir posting Jika ada kekurangan silahkan tambahkan jika ada kelebihan silahkan kurangi, semoga membantu dan terima kasih buat Windy
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan pembelajaran di sekolah adalah kegiatan pendidikan pada umumnya, yang menjadikan siswa menuju keadaan yang lebih baik. Pendidikan dalam hal ini sekolah tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian materi. Profesionalisme seorang guru sangatlah dibutuhkan guna terciptanya suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan siswa yang memiliki kemampuan beragam. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilakau kearah yang lebih baik.
Pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran yang artinya sebelum siswa belajar harus melalui sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yang masalahnya bersifat tertutup dan terbuka.Oleh karena itu pada proses pembelajaran guru perlu meningkatkan kemampuan menjadi guru professional dan kreatif dalam mengembangkan kemampuan mengajar sehingga siswa dapat maksimal walaupun dalam kenyataannya guru-guru di Indonesia sebagian besar masih mempertahankan metode-metode pembelajaran lama. Kemampuan guru sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dimana guru merupakan elemen di sekolah yang secara langsung dan aktif bersinggungan dengan siswa, kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan mengajar dengan menerapkan model pembelajarn yan tepat, efisien dan efektif.
Menurut UNESCO: “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together “ siswa bukan hanya duduk diam dan mendengarkan. Siswa harus diberdayakan agar siswa mau serta mampu berbuat untuk memperkaya pengelaman belajar (learning to do ). Interaksi siswa dengan lingkungannya menuntut mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know). Interaksi tersebut diharapkan siswa dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadian untuk memahami kebersamaan, bersikap toleransi terhadap teman (learning to live together). Untuk mencapai tujuan yang diatas dibutuhkan metode pengajaran yang sesuai, salah satunya adalah metode pembelajaran Based Learning. Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru. Pendekatan pemecahan masalah ini menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa, kegiatan belajar ini dapat mengasah kemampuan siswa dalam memahami konsep, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengemukakan gagasan atau ide dan mampu bekerjasama. Proses pembelajaran yang mengikut sertakan siswa secara aktif secara individu maupun kelompok, akan lebih bermakna karena dalam proses pembelajaran siswa mempunyai lebih banyak pengalaman. Dengan pembelajaran dengan metode pembelajaran Based Learning siswa akan lebih kreatif.
B. Tujuan
Dengan strategi pembelajaran baru ini, diharapkan adanya perubahan dari:
1. Mengingat atau menghafal ke arah berpikir dan pemahaman
2. Model ceramah ke pendekatan: discovery learning
3. Belajar secara individu ke belajar bersama-sama
4. Behavioristik ke konstruktivisme, yang ditandai dengan perubahan paradigma pembelajaran, dari paradigma pengetahuan dipindahkan dari otak guru ke otak siswa
5. Terkonstruksinya pengetahuan siswa Karena itulah pendekatan dan strategi pembelajaran yang dapat disarankan adalah suatu pendekatan yang didasarkan pada suatu pendapat bahwa pemahaman suatu konsep atau pengetahuan haruslah dibangun sendiri oleh siswa.
C. Permasalahan
Dari metode pembelajaran Based Learning timbulah berbagai permasalahan antara lain adalah:
➔ Apakah metode Based Learning?
➔ Apa sajakah ciri dari Based Learning?
➔ Apa tujuan dari Based Learning?
➔ Apa sajakah kelemahan dan kelebihan dari Based Learning?
BAB II
PEMBAHASAN
A. METODE BASED LEARNING
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar percakapan seperti: “Kalau ada masalah, mari kita diskusikan bersama” atau “ Segala sesuatu akan dapat kita selesaikan dengan baik apabila kita diskusikan permasalahannya”. Dari percakapan tersebut, kita mendapat gambaran bahwa diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih untuk membicarakan suatu masalah dan menyelesaikannya.
Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut. Satu kelas dibagi beberapa kelompok yang mesing-masing kelompok terdiri dari 3-6 orang untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah, bisa dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas. Dalam satu kelompok ini, mereka mempunyai tugas diantaranya:
o Membantu memecahkan masalah yang dihadapi
o Menampilkan saran-saran untuk mendiskusikan atau memecahkan masalah
o Mendengarkan baik-baik dan menghargai sumbangan pikiran anggota-anggota lainnya
o Mengembangkan pendapat atas dasar pendapat anggota lainnya
Memecahkan masalah merupakan metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya. Metode ini dapat didasarkan pada penelitian, pengajaran proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan interdisipliner, pelajaran individual dan pengajaran yang aktif. Yang penting ialah, bahwa setiap metode yang digunakan mempunyai tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahakn masalah. Langkah-langkah yang diikuti dalam pemecahan masalah, pada umumnya seperti yang dikemukakan oleh John Dewey, yaitu:
o Pelajar dihadapkan pada masalah
o Pelajar merumusakan masalah itu
o Pelajar merumuskan hipotesis
o Pelajar menguji hipotesis tersebut
Pada umumnya, yang hadir di ruang kelas adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang di mana proses pembelajaran yang terjadi bersifat memusatkan pada guru,dengan menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak yang buruk bagi siswa, di mana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa akan merasa apa yang mereka kerjakan bukan merupakan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu di luar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran.
Mengapa menggunakan based learning? Karena Based learning menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa. Tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam based learning adalah:
1. Menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa.Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas semenarik mungkin, misalnya melalui teka-teki, simulasi games, agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.
3. Menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya.
Selain itu , alasan menggunakan metode based learning ialah:
o Meningkat pendidikan untuk semua siswa
o Mengubah pola mengajar dari memberitahu ke melakukan
o Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan membuat keputusan sendiri
o Memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau memecahkan masalah
o Memungkinkan siswa melek teknologi
o Melengkapi siswa dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk sukses pada kompetisi global
o Mengajarkan inti kurikulum dengan cara interdisiplin
Biasanya, based learning digunakan oleh seorang guru ataupun dosen ketika mengajarkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, pertanyaan menarik mionat siswa, bila melatih siswa menjadi pebelajar yang madiri, serta pertanyaan mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari satu.
Contoh metode based learning: Guru memberikan suatu studi kasus mengenai kondisi suatu daerah tertentu yang kekurangan gizi sehingga menyebabkan rendahnya produksi daerah tersebut. Maka para siswa diminta untuk menyelesaikan dua masalah yang saling berkaitan itu dengan mempertimbangkan kondisi daerah itu secara keseluruhan termasuk soal keuangan, kelembagaan dan sumber-sumber lainnya yang tersedia bagi pembangunan.
B. CIRI- CIRI METODE BASED LEARNING
o Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik
o Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, dan belajar berbagai peran orang dewasa dengan terlibat dalam pengalaman nyata/simulasi
o Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
o Penyelidikan autentik
o Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
o Menghindari pembelajaran terisolasi dan berpusat pada guru
o Menciptakan pembelajaran interdisiplin, berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
o Terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis
o Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
o Pembelajaran berpusat pada siswa.
o Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil.
o Guru berperan sebagai tutor dan pembimbing.
o Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
o Masalah adalah kenderaan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
o Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
C. TUJUAN METODE BASED LEARNING
o Mengembangkan pengetahuan, tentang apakah yang dilakukan dan bagaimana melakukan hal tersebut
o Mengembangkan sikap, tentang keinginan atau kemauan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari
o Mengembangkan keterampilan, tentang abilitas untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui proses latihan pada pekerjaan tertentu.
o Melatih siswa berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah,
o Melatih siswa menjadi pebelajar yang mandiri (self regulated learning)
o Memperluas pandangan
o Siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah
o Siswa mamapu menyatakan pendapatnya secara lisan. Hal itu melatih kehidupan yang demokratis.
o Memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berparisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama
o Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
o Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri yang lebih positif
o Membantu mengembangkan kepemimpinan
o Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat
o Mengembangkan rasa sosial, karena bisa saling membantu dalam memecahkan soal
Sementara itu, guru mempunyai peran sebagai berikut:
o Mengajukan masalah otentik/mengorientasikan siswa/mahasiswa kepada masalah
o Memfasilitasi/membimbing penyelidikan pada saat pengamatan atau eksperimen
o Memfasilitasi dialog antara siswa
o Mendukung belajar siswa
o Memberikan instruksi verbal kepada siswa untuk membantu siswa memecahkan masalah. Instruksi verbal maksudnya ialah membimbing atau menjuruskan pemikiran pelajar itu ke arah tertentu
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE BASED LEARNING
a. Kelebihan
o Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapat
o Menguntungkan para siswa yang lemah dalam pemecahan masalah. Karena pemecahan masalah dilakukan oleh kelompok biasanya lebih tepat daripada memecahkan masalah secara perseorangan
o Meningkatkan kemungkinan siswa berpikir kritis
o Dapat mengembangkan rasa kepemimpinan
o Siswa dapat belajar memehami siswa lain karena pendapat setiap siswa selalu berbeda
o Dapat saling membantu dalam memecahkan masalah
o Meningkatkan keakraban antar siswa
o Membuat siswa lebih aktif
o Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
o Menimbulkan ide-ide baru
b. Kelemahan
o Metode ini tidak menjamin penyelesaian, sekalipun kelompok setuju atau membuat kesepakatan . Sebab keputusan yang dicapai belum tentu dilaksanakan
o Seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tidak berminat hanya sebagai penonton
o Kadangkala, terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
o Seingkali anggota kelompok mencoba mendominasi pembicaraan, sedangkan anggota lainnya mungkin segan untuk ikut berpartisipasi.
o Model pembelajaran Based Learning biasa dilakukan secara berkelompok membuat siswa yang malas semakin malas
o Siswa merasa guru tidak pernah menjelaskan karena model pembelajaran ini menuntut siswa yang lebih aktif
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas bahwa pembelajaran Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut.namun dalam setiap pembelajaran memiliki kelemahan dan kekurangan.namun dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif.Selain itu Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru.
B. SARAN
Dari pembelajaran Based learning dapat disarankan bahwa dari kelemahan dan kelebihanya siswa diharapkan mampu untuk :
➢ Belajar mengemukakan pendapat atau berbicara
➢ Mengasah siswa untuk mencari ide ide
➢ Belajar untuk memahami pendapat dan diharapkan lebih mengerti dengan penjelasan teman atau kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rinneka Cipta
Internet
Nasution, S. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina Aksara
N.K, Roestiyah dan Yumiati Suharto. 1985.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara
Pasaribu I.L dan B. Simandjutak. 1982. Proses Belajar-Mengajar. Bandung: Penerbit Tarsito
Staton, Thomas F. 1978. Cara Mengajar dengan Hasil yang Baik: Metode-metode Mengajar Modern dalam Pendidikan Orang Dewasa. Bandung: Penerbit cv. Diponegoro
Surakhmad, Winarno.1980. Pengantar Interaksi Mengajar- Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung: Penerbit Tarsito
Surjadi, A. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar: 65 Cara Belajar Mengajar dalam Kelompok. Bandung: Mandar Maju
http://www.anakciremai.com
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kegiatan pembelajaran di sekolah adalah kegiatan pendidikan pada umumnya, yang menjadikan siswa menuju keadaan yang lebih baik. Pendidikan dalam hal ini sekolah tidak dapat lepas dari peran guru sebagai fasilitator dalam penyampaian materi. Profesionalisme seorang guru sangatlah dibutuhkan guna terciptanya suasana proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam pengembangan siswa yang memiliki kemampuan beragam. Pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilakau kearah yang lebih baik.
Pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran yang artinya sebelum siswa belajar harus melalui sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yang masalahnya bersifat tertutup dan terbuka.Oleh karena itu pada proses pembelajaran guru perlu meningkatkan kemampuan menjadi guru professional dan kreatif dalam mengembangkan kemampuan mengajar sehingga siswa dapat maksimal walaupun dalam kenyataannya guru-guru di Indonesia sebagian besar masih mempertahankan metode-metode pembelajaran lama. Kemampuan guru sebagai salah satu usaha meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dimana guru merupakan elemen di sekolah yang secara langsung dan aktif bersinggungan dengan siswa, kemampuan yang dimaksudkan adalah kemampuan mengajar dengan menerapkan model pembelajarn yan tepat, efisien dan efektif.
Menurut UNESCO: “learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together “ siswa bukan hanya duduk diam dan mendengarkan. Siswa harus diberdayakan agar siswa mau serta mampu berbuat untuk memperkaya pengelaman belajar (learning to do ). Interaksi siswa dengan lingkungannya menuntut mereka untuk memahami pengetahuan yang berkaitan dengan dunia sekitarnya (learning to know). Interaksi tersebut diharapkan siswa dapat membangun jati diri (learning to be). Kesempatan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadian untuk memahami kebersamaan, bersikap toleransi terhadap teman (learning to live together). Untuk mencapai tujuan yang diatas dibutuhkan metode pengajaran yang sesuai, salah satunya adalah metode pembelajaran Based Learning. Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru. Pendekatan pemecahan masalah ini menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa, kegiatan belajar ini dapat mengasah kemampuan siswa dalam memahami konsep, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengemukakan gagasan atau ide dan mampu bekerjasama. Proses pembelajaran yang mengikut sertakan siswa secara aktif secara individu maupun kelompok, akan lebih bermakna karena dalam proses pembelajaran siswa mempunyai lebih banyak pengalaman. Dengan pembelajaran dengan metode pembelajaran Based Learning siswa akan lebih kreatif.
B. Tujuan
Dengan strategi pembelajaran baru ini, diharapkan adanya perubahan dari:
1. Mengingat atau menghafal ke arah berpikir dan pemahaman
2. Model ceramah ke pendekatan: discovery learning
3. Belajar secara individu ke belajar bersama-sama
4. Behavioristik ke konstruktivisme, yang ditandai dengan perubahan paradigma pembelajaran, dari paradigma pengetahuan dipindahkan dari otak guru ke otak siswa
5. Terkonstruksinya pengetahuan siswa Karena itulah pendekatan dan strategi pembelajaran yang dapat disarankan adalah suatu pendekatan yang didasarkan pada suatu pendapat bahwa pemahaman suatu konsep atau pengetahuan haruslah dibangun sendiri oleh siswa.
C. Permasalahan
Dari metode pembelajaran Based Learning timbulah berbagai permasalahan antara lain adalah:
➔ Apakah metode Based Learning?
➔ Apa sajakah ciri dari Based Learning?
➔ Apa tujuan dari Based Learning?
➔ Apa sajakah kelemahan dan kelebihan dari Based Learning?
BAB II
PEMBAHASAN
A. METODE BASED LEARNING
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar percakapan seperti: “Kalau ada masalah, mari kita diskusikan bersama” atau “ Segala sesuatu akan dapat kita selesaikan dengan baik apabila kita diskusikan permasalahannya”. Dari percakapan tersebut, kita mendapat gambaran bahwa diskusi merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih untuk membicarakan suatu masalah dan menyelesaikannya.
Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut. Satu kelas dibagi beberapa kelompok yang mesing-masing kelompok terdiri dari 3-6 orang untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah, bisa dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas. Dalam satu kelompok ini, mereka mempunyai tugas diantaranya:
o Membantu memecahkan masalah yang dihadapi
o Menampilkan saran-saran untuk mendiskusikan atau memecahkan masalah
o Mendengarkan baik-baik dan menghargai sumbangan pikiran anggota-anggota lainnya
o Mengembangkan pendapat atas dasar pendapat anggota lainnya
Memecahkan masalah merupakan metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya. Metode ini dapat didasarkan pada penelitian, pengajaran proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan interdisipliner, pelajaran individual dan pengajaran yang aktif. Yang penting ialah, bahwa setiap metode yang digunakan mempunyai tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahakn masalah. Langkah-langkah yang diikuti dalam pemecahan masalah, pada umumnya seperti yang dikemukakan oleh John Dewey, yaitu:
o Pelajar dihadapkan pada masalah
o Pelajar merumusakan masalah itu
o Pelajar merumuskan hipotesis
o Pelajar menguji hipotesis tersebut
Pada umumnya, yang hadir di ruang kelas adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang di mana proses pembelajaran yang terjadi bersifat memusatkan pada guru,dengan menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak yang buruk bagi siswa, di mana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa akan merasa apa yang mereka kerjakan bukan merupakan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu di luar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran.
Mengapa menggunakan based learning? Karena Based learning menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa. Tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam based learning adalah:
1. Menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa.Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas semenarik mungkin, misalnya melalui teka-teki, simulasi games, agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.
3. Menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya.
Selain itu , alasan menggunakan metode based learning ialah:
o Meningkat pendidikan untuk semua siswa
o Mengubah pola mengajar dari memberitahu ke melakukan
o Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan membuat keputusan sendiri
o Memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau memecahkan masalah
o Memungkinkan siswa melek teknologi
o Melengkapi siswa dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk sukses pada kompetisi global
o Mengajarkan inti kurikulum dengan cara interdisiplin
Biasanya, based learning digunakan oleh seorang guru ataupun dosen ketika mengajarkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, pertanyaan menarik mionat siswa, bila melatih siswa menjadi pebelajar yang madiri, serta pertanyaan mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari satu.
Contoh metode based learning: Guru memberikan suatu studi kasus mengenai kondisi suatu daerah tertentu yang kekurangan gizi sehingga menyebabkan rendahnya produksi daerah tersebut. Maka para siswa diminta untuk menyelesaikan dua masalah yang saling berkaitan itu dengan mempertimbangkan kondisi daerah itu secara keseluruhan termasuk soal keuangan, kelembagaan dan sumber-sumber lainnya yang tersedia bagi pembangunan.
B. CIRI- CIRI METODE BASED LEARNING
o Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik
o Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, dan belajar berbagai peran orang dewasa dengan terlibat dalam pengalaman nyata/simulasi
o Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
o Penyelidikan autentik
o Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
o Menghindari pembelajaran terisolasi dan berpusat pada guru
o Menciptakan pembelajaran interdisiplin, berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
o Terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis
o Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
o Pembelajaran berpusat pada siswa.
o Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil.
o Guru berperan sebagai tutor dan pembimbing.
o Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
o Masalah adalah kenderaan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
o Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
C. TUJUAN METODE BASED LEARNING
o Mengembangkan pengetahuan, tentang apakah yang dilakukan dan bagaimana melakukan hal tersebut
o Mengembangkan sikap, tentang keinginan atau kemauan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari
o Mengembangkan keterampilan, tentang abilitas untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui proses latihan pada pekerjaan tertentu.
o Melatih siswa berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah,
o Melatih siswa menjadi pebelajar yang mandiri (self regulated learning)
o Memperluas pandangan
o Siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah
o Siswa mamapu menyatakan pendapatnya secara lisan. Hal itu melatih kehidupan yang demokratis.
o Memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berparisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama
o Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
o Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri yang lebih positif
o Membantu mengembangkan kepemimpinan
o Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat
o Mengembangkan rasa sosial, karena bisa saling membantu dalam memecahkan soal
Sementara itu, guru mempunyai peran sebagai berikut:
o Mengajukan masalah otentik/mengorientasikan siswa/mahasiswa kepada masalah
o Memfasilitasi/membimbing penyelidikan pada saat pengamatan atau eksperimen
o Memfasilitasi dialog antara siswa
o Mendukung belajar siswa
o Memberikan instruksi verbal kepada siswa untuk membantu siswa memecahkan masalah. Instruksi verbal maksudnya ialah membimbing atau menjuruskan pemikiran pelajar itu ke arah tertentu
D. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE BASED LEARNING
a. Kelebihan
o Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapat
o Menguntungkan para siswa yang lemah dalam pemecahan masalah. Karena pemecahan masalah dilakukan oleh kelompok biasanya lebih tepat daripada memecahkan masalah secara perseorangan
o Meningkatkan kemungkinan siswa berpikir kritis
o Dapat mengembangkan rasa kepemimpinan
o Siswa dapat belajar memehami siswa lain karena pendapat setiap siswa selalu berbeda
o Dapat saling membantu dalam memecahkan masalah
o Meningkatkan keakraban antar siswa
o Membuat siswa lebih aktif
o Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
o Menimbulkan ide-ide baru
b. Kelemahan
o Metode ini tidak menjamin penyelesaian, sekalipun kelompok setuju atau membuat kesepakatan . Sebab keputusan yang dicapai belum tentu dilaksanakan
o Seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tidak berminat hanya sebagai penonton
o Kadangkala, terjadi adanya pandangan dari berbagai sudut bagi masalah yang dipecahkan, bahkan mungkin pembicaraan menjadi menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
o Seingkali anggota kelompok mencoba mendominasi pembicaraan, sedangkan anggota lainnya mungkin segan untuk ikut berpartisipasi.
o Model pembelajaran Based Learning biasa dilakukan secara berkelompok membuat siswa yang malas semakin malas
o Siswa merasa guru tidak pernah menjelaskan karena model pembelajaran ini menuntut siswa yang lebih aktif
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas bahwa pembelajaran Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut.namun dalam setiap pembelajaran memiliki kelemahan dan kekurangan.namun dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif.Selain itu Based Learning adalah suatu metode pembelajaran kooperatif berdasarkan pada prinsip penggunaan permasalahan sebagai titik awal untuk penggadaan pengetahuan baru.
B. SARAN
Dari pembelajaran Based learning dapat disarankan bahwa dari kelemahan dan kelebihanya siswa diharapkan mampu untuk :
➢ Belajar mengemukakan pendapat atau berbicara
➢ Mengasah siswa untuk mencari ide ide
➢ Belajar untuk memahami pendapat dan diharapkan lebih mengerti dengan penjelasan teman atau kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rinneka Cipta
Internet
Nasution, S. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bina Aksara
N.K, Roestiyah dan Yumiati Suharto. 1985.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara
Pasaribu I.L dan B. Simandjutak. 1982. Proses Belajar-Mengajar. Bandung: Penerbit Tarsito
Staton, Thomas F. 1978. Cara Mengajar dengan Hasil yang Baik: Metode-metode Mengajar Modern dalam Pendidikan Orang Dewasa. Bandung: Penerbit cv. Diponegoro
Surakhmad, Winarno.1980. Pengantar Interaksi Mengajar- Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran. Bandung: Penerbit Tarsito
Surjadi, A. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar: 65 Cara Belajar Mengajar dalam Kelompok. Bandung: Mandar Maju
http://www.anakciremai.com
MAKALAH TENTANG INOVASI PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pesatnya perkembangan lingkungan lokal, regional, dan internasional saat ini berimplikasi terhadap penanganan penyelenggaraan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan yang ada. Berkaitan dengan perkembangan tersebut, kebutuhan untuk memenuhi tuntutan meningkatkan mutu pendidikan sangat mendesak terutama dengan ketatnya kompetitif antar bangsa di dunia dalam saaat ini. Sehubungan dengan hal ini, paling sedikit ada tiga fokus utama yang perlu diatasi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, yaitu: (i) upaya peningkatan mutu pendidikan; (ii) relevansi yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan, dan (iii) tata kelola pendidikan yang kuat. Depdiknas menempatkan ketiga hal tersebut dalam rencana strategis pembangunan pendidikan nasional tahun 2004-2009, namun disadari bahwa ketiganya tetap mendesak dan relevan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional pada waktu yang akan datang.
Atas dasar itu, Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan (Puslitjaknov) Balitbang Depdiknas dalam simposium nasional hasil penelitian pendidikan pada tahun 2009 mengangkat peningkatan mutu pendidikan, relevansi, dan penguatan tata kelola sebagai tema.
Simposium nasional penelitian dan inovasi pendidikan tahun 2009 merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Puslitjaknov Balitbang Depdiknas sebagai wahana dan wadah untuk menjaring informasi hasil penelitian, pengembangan, dan gagasan inovatif yang bermanfaat dalam memberikan bahan masukan bagi pengambilan kebijakan pendidikan nasional.
Kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan, tetapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Rogers (1983 : 11) memberikan batasan yang dimaksud dengan inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu.
1.2 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada makalah ini adalah:
1. Apa Pengertian inovasi pendidikan?
2. Apa Tujuan Inovasi Pendidikan?
3. Apa Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari Penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Bagaimana Pengertian inovasi pendidikan?
2. Bagaimana Tujuan Inovasi Pendidikan?
3. Bagaimana Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan?
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan untuk penyusunan makalah ini adalah metode pustaka, yaitu penulis mengambil data-data dari beberapa sumber seperti buku dan internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Inovasi Pendidikan
Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaharuan dan perbuahan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju ke arah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan bererncana (tidak secara kebetulan saja).
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovsi oendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memcahkan masalah pendidikan.
Demikian pula Ansyar, Nurtain (1991) mengemukakan inovasi adalah gagasan, perbuatan, atau suatu yang baru dalam konteks social tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi.
Selanjutnya dijelaskan bahwa sesuatu yang baru itu mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain atau sesuatu itu sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan. Dengan demikian, daat disimpulkan bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah inovasi.
Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.
Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.
2.2 Tujuan inovasi
Menurut Santoso (1974), tujuan utama inovasi adalah, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas: sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunana), dengan menggunakan sumber, tenga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.
Tahap demi tahap arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia:
a. Mengajar ketinggalan-ketinggala yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajara dengan kemjuan tersebut
b. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
2.3 Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan
Sasaran yang dimaksud di sini adalah komponen-komponen apa saja dalam bidang pendidikan yang dapat menciptakan inovasi. Pendidkan adalah suatu sistem maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas, misalnya sistem pendidikan nasional.
Berikut ini contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen pendidikan atau komponen sistem sosial dengan pola yang dikemukakan oleh B. Milles, seperti yang dikutip oleh Ibrahim (1988).
2.3.1 Pembinaan Personalia
Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial menempatkan personal (orang) sebagai bagian/komponen dari sistem. Adapun inovasi yang sesuai dengan pembinaan personal, yaitu peningkatan mutu guru, sistem kenaikanpangkat, peningkatan disiplin siswa melalui tata tertib dan sebagainya.
2.3.2 Banyaknya Personal dan Wilayah Kerja
Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini, misalnya rasio guru dan siswa dalam satu sekolah.
2.3.3 Fasilitas Fisik
Sistem pendidikan untuk mendayagunakan sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. Inovasi yang sesuai dengan komponen ini, misalnya pengaturan tempat duduk siswa,pengaturan papan tulis, pengaturan peralatan laboratorium bahasa, penggunaan kamera video.
2.3.4 Penggunaan Waktu
Dalam sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan pengunaan waktu. Inovasi yang sesuai dengan aspek ini, misalnya pengaturan waktu belajar (pagi atau siang), pengaturan jadwal pelajaran.
2.3.5 Perumusan Tujuan
Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovas iyang sesuai dengan aspek ini, misalnya perubahan rumusan tujuan pendidikan nasional, perubahan rumusan tujuan kurikuler, perubahan rumusan tujuan institusional, perubahan rumusan tujuan instruksional.
2.3.6 Prosedur
Dalam sistem pendidikan tentu saja memiliki prosedur untuk mencapai tujuan. Adapun inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini adalah penggunaan kurikulum baru, cara membuat rencana pengajaran, pengajaran secara kelompok dan sebagainya.
2.3.7 Peran yang Diperlukan
Dalam sistem pendidikan perlu adanya kejelasan peran yang diperlukan guna menunjang pencapaian tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini, misalnya peran guru sebagai pemakai media, peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai team teaching.
BAB III
KESIMPULAN
Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.
Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. Fuad Ihsan, dasar-Dasar Kependidikan. Rineka Cipta, 1997
www.Google.com
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pesatnya perkembangan lingkungan lokal, regional, dan internasional saat ini berimplikasi terhadap penanganan penyelenggaraan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan yang ada. Berkaitan dengan perkembangan tersebut, kebutuhan untuk memenuhi tuntutan meningkatkan mutu pendidikan sangat mendesak terutama dengan ketatnya kompetitif antar bangsa di dunia dalam saaat ini. Sehubungan dengan hal ini, paling sedikit ada tiga fokus utama yang perlu diatasi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, yaitu: (i) upaya peningkatan mutu pendidikan; (ii) relevansi yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan, dan (iii) tata kelola pendidikan yang kuat. Depdiknas menempatkan ketiga hal tersebut dalam rencana strategis pembangunan pendidikan nasional tahun 2004-2009, namun disadari bahwa ketiganya tetap mendesak dan relevan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional pada waktu yang akan datang.
Atas dasar itu, Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan (Puslitjaknov) Balitbang Depdiknas dalam simposium nasional hasil penelitian pendidikan pada tahun 2009 mengangkat peningkatan mutu pendidikan, relevansi, dan penguatan tata kelola sebagai tema.
Simposium nasional penelitian dan inovasi pendidikan tahun 2009 merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Puslitjaknov Balitbang Depdiknas sebagai wahana dan wadah untuk menjaring informasi hasil penelitian, pengembangan, dan gagasan inovatif yang bermanfaat dalam memberikan bahan masukan bagi pengambilan kebijakan pendidikan nasional.
Kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan, tetapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Rogers (1983 : 11) memberikan batasan yang dimaksud dengan inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain. Kata "baru" bersifat sangat relatif, bisa karena seseorang baru mengetahui, atau bisa juga karena baru mau menerima meskipun sudah lama tahu.
1.2 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada makalah ini adalah:
1. Apa Pengertian inovasi pendidikan?
2. Apa Tujuan Inovasi Pendidikan?
3. Apa Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari Penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Bagaimana Pengertian inovasi pendidikan?
2. Bagaimana Tujuan Inovasi Pendidikan?
3. Bagaimana Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan?
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan untuk penyusunan makalah ini adalah metode pustaka, yaitu penulis mengambil data-data dari beberapa sumber seperti buku dan internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Inovasi Pendidikan
Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaharuan dan perbuahan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru yang menuju ke arah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan bererncana (tidak secara kebetulan saja).
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovsi oendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memcahkan masalah pendidikan.
Demikian pula Ansyar, Nurtain (1991) mengemukakan inovasi adalah gagasan, perbuatan, atau suatu yang baru dalam konteks social tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi.
Selanjutnya dijelaskan bahwa sesuatu yang baru itu mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain atau sesuatu itu sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan. Dengan demikian, daat disimpulkan bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah inovasi.
Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.
Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.
2.2 Tujuan inovasi
Menurut Santoso (1974), tujuan utama inovasi adalah, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas: sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunana), dengan menggunakan sumber, tenga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.
Tahap demi tahap arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia:
a. Mengajar ketinggalan-ketinggala yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajara dengan kemjuan tersebut
b. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
2.3 Sasaran Program Pembaruan (Inovasi) dalam Bidang Pendidikan
Sasaran yang dimaksud di sini adalah komponen-komponen apa saja dalam bidang pendidikan yang dapat menciptakan inovasi. Pendidkan adalah suatu sistem maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas, misalnya sistem pendidikan nasional.
Berikut ini contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen pendidikan atau komponen sistem sosial dengan pola yang dikemukakan oleh B. Milles, seperti yang dikutip oleh Ibrahim (1988).
2.3.1 Pembinaan Personalia
Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial menempatkan personal (orang) sebagai bagian/komponen dari sistem. Adapun inovasi yang sesuai dengan pembinaan personal, yaitu peningkatan mutu guru, sistem kenaikanpangkat, peningkatan disiplin siswa melalui tata tertib dan sebagainya.
2.3.2 Banyaknya Personal dan Wilayah Kerja
Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini, misalnya rasio guru dan siswa dalam satu sekolah.
2.3.3 Fasilitas Fisik
Sistem pendidikan untuk mendayagunakan sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan. Inovasi yang sesuai dengan komponen ini, misalnya pengaturan tempat duduk siswa,pengaturan papan tulis, pengaturan peralatan laboratorium bahasa, penggunaan kamera video.
2.3.4 Penggunaan Waktu
Dalam sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan pengunaan waktu. Inovasi yang sesuai dengan aspek ini, misalnya pengaturan waktu belajar (pagi atau siang), pengaturan jadwal pelajaran.
2.3.5 Perumusan Tujuan
Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovas iyang sesuai dengan aspek ini, misalnya perubahan rumusan tujuan pendidikan nasional, perubahan rumusan tujuan kurikuler, perubahan rumusan tujuan institusional, perubahan rumusan tujuan instruksional.
2.3.6 Prosedur
Dalam sistem pendidikan tentu saja memiliki prosedur untuk mencapai tujuan. Adapun inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini adalah penggunaan kurikulum baru, cara membuat rencana pengajaran, pengajaran secara kelompok dan sebagainya.
2.3.7 Peran yang Diperlukan
Dalam sistem pendidikan perlu adanya kejelasan peran yang diperlukan guna menunjang pencapaian tujuan. Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini, misalnya peran guru sebagai pemakai media, peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai team teaching.
BAB III
KESIMPULAN
Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.
Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. Fuad Ihsan, dasar-Dasar Kependidikan. Rineka Cipta, 1997
www.Google.com
MAKALAH TENTANG ILMU PENDIDIKAN TENTANG EVALUASI HASIL BELAJAR
BAB I
PENDAHULUAN
Kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran” adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya.
Teknik tes bukan satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan berbagai cara, seperti :
1. Skala
2. Angket
3. Wawancara
4. Observasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. SKALA
1. Pengertian
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
2. Jenis-jenis Skala
1) Skala penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan bisa dalam bentuk huruf, angka, kategori seperti; tinggi, sedang, baik, kurang, dan sebagainya.
2) Skala sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolak, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. Pernyataan sikap, di samping kategori positif dan negatif, harus pula mencerminkan dimensi sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi.
a) Bentuk Skala Sikap
Bentuk skala yang dapat di pergunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:
1) Skala Likert
Skala likert ialah skala yang dapat di pergunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya, subjek merespon dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan, misalnya:
Setuju – tidak setuju
Suka – tak suka
Menerima –menolak
Model skala ini banyak digunakan dalam kegiatan penelitian, karena lebih mudah mengembangkannya dan interval skalanya sama.
Contoh:
Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.
Alternatif jawaban :
Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )
2) Skala Guttman
Skala guttman yaitu skala yang mengiginkan tipe jawan tegas, seperti jawaban benar salah,ya – tidak, pernah – tidak pernah,positif- negatif, tinggi –rendah, baik –buruk, dan seterusnya.pada skala Guttman ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju.selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman dapat juga dibuat dalam bentuk daftar checklist.
3) Semantik Differensial
Skala differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala mantik differensial adalah data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
4) Rating Scale
Data –data skala yang diperoleh melaui tiga macam skala diatas adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale,data yang diperoleh adalh data kuanitatif(angka) yakng kemudian ditafsirkan dalm pengertian kualitatif. Skala ini lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan,kemampuan,dan lain-lain.
5) Skala Thurstone
Skala thurstone ialah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pertanyaan yang relevan dengan variabel yang hendak diukurkemudian sejumlah ahli (20-40) orang yang menilai relevansi pertanyaan itu dengan konten atau konstruk variabel yang hendak diukur. Nilai 1 pada skala diatas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.
b) Prosedur Penyusunan Skala Sikap
Langkah-langkah penyusunan skala pada umumnya adalah:
1. Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut.
2. Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut
3. Dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
4. Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.
c) Prosedur Penyusunan Item Untuk Skala Sikap
Pada garis besarnya penysunan item untuk skala, perlu ditempuh langkah -langkah sebagai berikut:
1. Tentukan obyek atau gejala apa.
2. Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap obyek atau gejala tersebut
3. Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut
4. Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi sejumlah atribut yang lebih speifik.
5. Tentukan indicator penilaian terhadap setiap atribut tersebut
6. Sususnlah perangkat item sesuai dengan indicator yang telah dirumuskan
7. suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30 item.
8. Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya dalam bentuk pernyataan positif dan separuhnya dalm bentuk pernyataan negative
9. Tentukan banyak skala: lima atau tujuh atau sebelas alternative
10. tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya 4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.
Contoh:
Misalnya menilai bagaimana sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika di sekolah. Subvariabelnya adalah:
a) sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran matematika
b) sikap terhadap cara mempelajari mata pelajaran matematika
c) sikap terhadap guru mata pelajaran matematika
Setiap subvariabel tersebut kemudian dijabarkan indikator-indikatornya:
1) Paham dan yakin akan pentingnya tujuan dan isi matematika
2) Kemauan untuk mempelajari materi matematika
3) Kemauan untuk menerapkan atau menggunakan konsep matematika
B. ANGKET
Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilaian (evaluator) berhadapan secara langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih praktis,menghemat waktu dan tenaga.
Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
2. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah
3. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan responden
4. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
5. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan mengakibatkan salah penafsiran.
6. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis.
7. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang dari pertanyaan.
8. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak akan objektif lagi.
9. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.
Contoh 1 : Kuesioner Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengungkap Hasil Belajar Ranah Afektif (Kurikulum dan GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun 1994).
1. Terhadap teman-teman sekelas saya yang rajian dan khusu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saya:
1. Merasa tidak harus meniru mereka
2. Merasa belum pernah memikirkan untuk shalat dengan rajin dan khusu’
3. Merasa ingin seperti mereka, tetap[i terasa masih sulit
4. Sedang berusaha agar rajin dan khusu’
5. Merasa iri hati dan ingin seperti mereka.
Contoh 2 : Kuesioner Bentuk Skala Likert dalam Rangka Mengungkap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Ranah Afektif
- Membayar infaq atau shadaqah itu memang baik untuk dikerjakan, akan tetapi sebenarnya bagi orang yang telah membayarkan zakatnya tidak perlu lagi untuk membayar infaq atau shadaqah.
Terhadap pertanyaan tersebut, saya:
1. Sangat setuju
2. Setuju
3. Ragu-ragu
4. Tidak setuju
5. Sangat tidak setuju
Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik itu sendiri, dimana data yang berhasil diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut diri peserta didik.
C. WAWANCARA
1. Pengertian
Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Ada dua jenis wawancara yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
1. Wawancara terpimpin (guided Interview) yang juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur atau wawancara sistematis.
2. Wawancara tidak terpimpin (unguided Interview) yang sering dikenal dengan wawancara sederhana atau wawancara tidak sistematis ataupun wawancara bebas.
2. Mempersiapkan Wawancara
Sebelum melaksanakan wawancara, perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
2. Berdasarkan tujuan di atas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan wawancara.
3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur atau bentuk terbuka
4. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis butir (c) di atas, yakni membuat pertanyaan yang berstruktur atau yang bebas
5. Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara.
D. PENGAMATAN
1. Pengertian
Pengamatan merupakan cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan / observasi. Observasi sevagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
2. Macam-Macam Observasi
Observasi dapat dilakukan secara:
1. Partisipatif
Observer (dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan observasi) melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan observee (yang diamati).
2. Non-Partisipatif
Evaluator / observer berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.
3. Eksperimental
Observasi yang dilakukan dalam situasi buatan. Pada observasi eksperimental, peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka diperlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang.
4. Non- Eksperimental
Observasi dilakukan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana
5. Sistematis
Observasi yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan secara matang. Pada jenis ini, observasi dilaksanakan dengan berlandaskan pada kerangka kerja yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya.
6. Non-sistematis
Observasi di mana observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti, maka kegiatan observasi hanya dibatasi oleh tujuan dari observasi itu sendiri.
3. Membuat Pedoman Observasi
Langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut :
1. Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas. Lalu catat kegiatan yang dilakukannya dari awal sampai akhir pelajaran. Hal ini dilakukan agar dapat menentukan jenis perilaku guru pada saat mengajarkan sebagai segi-segi yang akan diamati.
2. Berdasarkan gambaran dari langkah ( a ) di atas, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya. Urutkan segi-sejgi tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya berdasarkan khasanah pengetahuan ilmiah, misalnya berdasarkan teori mengajar. Rumusan tingkah laku tersebutu harus jelas dan spesifik sehingga dapat diamati oleh pengamatnya
3. Tentukan bentuk pedoman observasi tersebut, apakah benruk bebas ( tak perlu jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak ) atau pedoman yangn berstruktur ( memakai kemungkinan jawaban ). Bila dipakai bentuk yang berstruktur, tetapkan pilihan jawaban serta indikator-indikator dan setiap jawaban yang disediakan sebagai pegangan bagi pengamat pada saat melakukan observasi nanti
4. Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dahulu pedoman observasi yang telah dibuat dan calon observanagar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
5. Bila ada hal khusus yang menarik,tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya diadakan catatan khusus atau komentar pengamat di bagian akhir pedoman observasi.
Pencatatan hasil observasi itu pada umumnya jauh lebih sukar daripada mencatat jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes. Pencatatan terhadap segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sekali sebab hasilnya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung di balik tingkah laku peserta didik tersebut. Pedoman observasi itu wujud kongkretnya adalah sebuah atau beberapa buah formulir (blangko atau form) yang di dalamnya dimuat segi-segi, aspek-aspek atau tingkah laku yang perlu diamati dan dicatat pada waktu berlangsungnya kegiatan peserta didik.
BAB III
PENGOLAHAN DATA HASIL NON TES
Pada umumnya data hasil nontes bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengukuran sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban responden melalui alat ukur tersebut. Misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang diperoleh dari wawancara, kuesioner, observasi, skala.
A. Pengolahan data hasil wawancara dan kuesioner
Dari data hasil wawancara dan atau kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responden untuk setiap alternatif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi ditafsirkan sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tsb, seperti;
Contoh: Melalui kuesioner ataupun wawancara diungkapkan pandangan siswa mengenai guru yang diharapkan dalam:
1. Kemampuan mengajar
2. Hubungan dengan siswa
Kuesioner atau wawancara diajukan kepada 40 orang siswa dengan pertanyaan sebagai berikut :
1. Guru yang saya harapkan adalah guru yang:
a. Menguasai bahan pelajaran atau pandai dalam bidang ilmunya.
b. Cara menjelaskan bahannya dapat saya pahami sekalipun tidak begitu pandai/
c. Pandai dalam bidang ilmunya dan dapat menjelaskannya kepada siswa dengan baik.
d. Sebaiknya dimulai dari yang umum, kemudian dibahas secara khusus
e. Sebaiknya dimulai dari yang khusus, kemudian menuju kepada yang umum.
f. Dimulai dari mana saja asal dijelaskan secara sistematis.
2. Pada waktu mengerjakan bahan pelajaran:
Kuesioner yang telah diisi oleh siswa kemudian diperiksa dan diolah dengan menghitung frekuensi jawaban seluruh siswa terhadap setiap pertanyaan tersebut.
Lebih lanjutnya silahkan download aja!!....
PENDAHULUAN
Kegiatan “mengukur” atau “melakukan pengukuran” adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan “mengukur” itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya.
Teknik tes bukan satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non-tes. Dengan teknik non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan berbagai cara, seperti :
1. Skala
2. Angket
3. Wawancara
4. Observasi
BAB II
PEMBAHASAN
A. SKALA
1. Pengertian
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
2. Jenis-jenis Skala
1) Skala penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan bisa dalam bentuk huruf, angka, kategori seperti; tinggi, sedang, baik, kurang, dan sebagainya.
2) Skala sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus yang datang pada dirinya.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolak, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif. Pernyataan sikap, di samping kategori positif dan negatif, harus pula mencerminkan dimensi sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi.
a) Bentuk Skala Sikap
Bentuk skala yang dapat di pergunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:
1) Skala Likert
Skala likert ialah skala yang dapat di pergunakan untuk mengukur sikap,pendapat,dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Skala ini memuat item yang diperkirakan sama dalam sikap atau beban nilainya, subjek merespon dengan berbagai tingkat intensitas berdasarkan rentang skala antara dua sudut yang berlawanan, misalnya:
Setuju – tidak setuju
Suka – tak suka
Menerima –menolak
Model skala ini banyak digunakan dalam kegiatan penelitian, karena lebih mudah mengembangkannya dan interval skalanya sama.
Contoh:
Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.
Alternatif jawaban :
Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )
2) Skala Guttman
Skala guttman yaitu skala yang mengiginkan tipe jawan tegas, seperti jawaban benar salah,ya – tidak, pernah – tidak pernah,positif- negatif, tinggi –rendah, baik –buruk, dan seterusnya.pada skala Guttman ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju.selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman dapat juga dibuat dalam bentuk daftar checklist.
3) Semantik Differensial
Skala differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala mantik differensial adalah data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
4) Rating Scale
Data –data skala yang diperoleh melaui tiga macam skala diatas adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale,data yang diperoleh adalh data kuanitatif(angka) yakng kemudian ditafsirkan dalm pengertian kualitatif. Skala ini lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan,kemampuan,dan lain-lain.
5) Skala Thurstone
Skala thurstone ialah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pertanyaan yang relevan dengan variabel yang hendak diukurkemudian sejumlah ahli (20-40) orang yang menilai relevansi pertanyaan itu dengan konten atau konstruk variabel yang hendak diukur. Nilai 1 pada skala diatas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan sangat relevan.
b) Prosedur Penyusunan Skala Sikap
Langkah-langkah penyusunan skala pada umumnya adalah:
1. Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala tersebut.
2. Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut
3. Dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
4. Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.
c) Prosedur Penyusunan Item Untuk Skala Sikap
Pada garis besarnya penysunan item untuk skala, perlu ditempuh langkah -langkah sebagai berikut:
1. Tentukan obyek atau gejala apa.
2. Rumuskan perilaku apa yang mengacu sikap apa terhadap obyek atau gejala tersebut
3. Rumuskan karakteristik dari perilaku sikap tersebut
4. Rincilah lebih lanjut tiap karekteristik menjdi sejumlah atribut yang lebih speifik.
5. Tentukan indicator penilaian terhadap setiap atribut tersebut
6. Sususnlah perangkat item sesuai dengan indicator yang telah dirumuskan
7. suatu skala terdiri dari antara 20 sampai dengan 30 item.
8. Susunlah item tersebut, yang terdiri dari separuhnya dalam bentuk pernyataan positif dan separuhnya dalm bentuk pernyataan negative
9. Tentukan banyak skala: lima atau tujuh atau sebelas alternative
10. tentukan bobot nilai bagi tiap skalanya. Misalnya 4,3,2,1.0 untuk lima nilai skala, sebagai dasar perhitungan kuantitatif.
Contoh:
Misalnya menilai bagaimana sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika di sekolah. Subvariabelnya adalah:
a) sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran matematika
b) sikap terhadap cara mempelajari mata pelajaran matematika
c) sikap terhadap guru mata pelajaran matematika
Setiap subvariabel tersebut kemudian dijabarkan indikator-indikatornya:
1) Paham dan yakin akan pentingnya tujuan dan isi matematika
2) Kemauan untuk mempelajari materi matematika
3) Kemauan untuk menerapkan atau menggunakan konsep matematika
B. ANGKET
Angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilaian (evaluator) berhadapan secara langsung dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih praktis,menghemat waktu dan tenaga.
Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah sebagai berikut:
1. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
2. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah
3. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan responden
4. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
5. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan mengakibatkan salah penafsiran.
6. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis.
7. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, atau rumusannya tidak lebih panjang dari pertanyaan.
8. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak akan objektif lagi.
9. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.
Contoh 1 : Kuesioner Bentuk Pilihan Ganda untuk Mengungkap Hasil Belajar Ranah Afektif (Kurikulum dan GBPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Tahun 1994).
1. Terhadap teman-teman sekelas saya yang rajian dan khusu’ dalam menjalankan ibadah shalat, saya:
1. Merasa tidak harus meniru mereka
2. Merasa belum pernah memikirkan untuk shalat dengan rajin dan khusu’
3. Merasa ingin seperti mereka, tetap[i terasa masih sulit
4. Sedang berusaha agar rajin dan khusu’
5. Merasa iri hati dan ingin seperti mereka.
Contoh 2 : Kuesioner Bentuk Skala Likert dalam Rangka Mengungkap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Ranah Afektif
- Membayar infaq atau shadaqah itu memang baik untuk dikerjakan, akan tetapi sebenarnya bagi orang yang telah membayarkan zakatnya tidak perlu lagi untuk membayar infaq atau shadaqah.
Terhadap pertanyaan tersebut, saya:
1. Sangat setuju
2. Setuju
3. Ragu-ragu
4. Tidak setuju
5. Sangat tidak setuju
Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik itu sendiri, dimana data yang berhasil diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut diri peserta didik.
C. WAWANCARA
1. Pengertian
Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Ada dua jenis wawancara yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
1. Wawancara terpimpin (guided Interview) yang juga dikenal dengan istilah wawancara berstruktur atau wawancara sistematis.
2. Wawancara tidak terpimpin (unguided Interview) yang sering dikenal dengan wawancara sederhana atau wawancara tidak sistematis ataupun wawancara bebas.
2. Mempersiapkan Wawancara
Sebelum melaksanakan wawancara, perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara.
2. Berdasarkan tujuan di atas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan wawancara.
3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur atau bentuk terbuka
4. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis butir (c) di atas, yakni membuat pertanyaan yang berstruktur atau yang bebas
5. Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara.
D. PENGAMATAN
1. Pengertian
Pengamatan merupakan cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan / observasi. Observasi sevagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
2. Macam-Macam Observasi
Observasi dapat dilakukan secara:
1. Partisipatif
Observer (dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan observasi) melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan observee (yang diamati).
2. Non-Partisipatif
Evaluator / observer berada “di luar garis”, seolah-olah sebagai penonton belaka.
3. Eksperimental
Observasi yang dilakukan dalam situasi buatan. Pada observasi eksperimental, peserta didik dikenai perlakuan (treatment) atau suatu kondisi tertentu, maka diperlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang.
4. Non- Eksperimental
Observasi dilakukan dalam situasi yang wajar, pelaksanaannya jauh lebih sederhana
5. Sistematis
Observasi yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat perencanaan secara matang. Pada jenis ini, observasi dilaksanakan dengan berlandaskan pada kerangka kerja yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya.
6. Non-sistematis
Observasi di mana observer atau evaluator dalam melakukan pengamatan dan pencatatan tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti, maka kegiatan observasi hanya dibatasi oleh tujuan dari observasi itu sendiri.
3. Membuat Pedoman Observasi
Langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi langsung adalah sebagai berikut :
1. Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas. Lalu catat kegiatan yang dilakukannya dari awal sampai akhir pelajaran. Hal ini dilakukan agar dapat menentukan jenis perilaku guru pada saat mengajarkan sebagai segi-segi yang akan diamati.
2. Berdasarkan gambaran dari langkah ( a ) di atas, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya. Urutkan segi-sejgi tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya berdasarkan khasanah pengetahuan ilmiah, misalnya berdasarkan teori mengajar. Rumusan tingkah laku tersebutu harus jelas dan spesifik sehingga dapat diamati oleh pengamatnya
3. Tentukan bentuk pedoman observasi tersebut, apakah benruk bebas ( tak perlu jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak ) atau pedoman yangn berstruktur ( memakai kemungkinan jawaban ). Bila dipakai bentuk yang berstruktur, tetapkan pilihan jawaban serta indikator-indikator dan setiap jawaban yang disediakan sebagai pegangan bagi pengamat pada saat melakukan observasi nanti
4. Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dahulu pedoman observasi yang telah dibuat dan calon observanagar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
5. Bila ada hal khusus yang menarik,tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya diadakan catatan khusus atau komentar pengamat di bagian akhir pedoman observasi.
Pencatatan hasil observasi itu pada umumnya jauh lebih sukar daripada mencatat jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dalam suatu tes. Pencatatan terhadap segala sesuatu yang dapat disaksikan dalam observasi itu penting sekali sebab hasilnya akan dijadikan landasan untuk menilai makna yang terkandung di balik tingkah laku peserta didik tersebut. Pedoman observasi itu wujud kongkretnya adalah sebuah atau beberapa buah formulir (blangko atau form) yang di dalamnya dimuat segi-segi, aspek-aspek atau tingkah laku yang perlu diamati dan dicatat pada waktu berlangsungnya kegiatan peserta didik.
BAB III
PENGOLAHAN DATA HASIL NON TES
Pada umumnya data hasil nontes bertujuan untuk mendeskripsikan hasil pengukuran sehingga dapat dilihat kecenderungan jawaban responden melalui alat ukur tersebut. Misalnya bagaimana kecenderungan jawaban yang diperoleh dari wawancara, kuesioner, observasi, skala.
A. Pengolahan data hasil wawancara dan kuesioner
Dari data hasil wawancara dan atau kuesioner pada umumnya dicari frekuensi jawaban responden untuk setiap alternatif yang ada pada setiap soal. Frekuensi yang paling tinggi ditafsirkan sebagai kecenderungan jawaban alat ukur tsb, seperti;
Contoh: Melalui kuesioner ataupun wawancara diungkapkan pandangan siswa mengenai guru yang diharapkan dalam:
1. Kemampuan mengajar
2. Hubungan dengan siswa
Kuesioner atau wawancara diajukan kepada 40 orang siswa dengan pertanyaan sebagai berikut :
1. Guru yang saya harapkan adalah guru yang:
a. Menguasai bahan pelajaran atau pandai dalam bidang ilmunya.
b. Cara menjelaskan bahannya dapat saya pahami sekalipun tidak begitu pandai/
c. Pandai dalam bidang ilmunya dan dapat menjelaskannya kepada siswa dengan baik.
d. Sebaiknya dimulai dari yang umum, kemudian dibahas secara khusus
e. Sebaiknya dimulai dari yang khusus, kemudian menuju kepada yang umum.
f. Dimulai dari mana saja asal dijelaskan secara sistematis.
2. Pada waktu mengerjakan bahan pelajaran:
Kuesioner yang telah diisi oleh siswa kemudian diperiksa dan diolah dengan menghitung frekuensi jawaban seluruh siswa terhadap setiap pertanyaan tersebut.
Lebih lanjutnya silahkan download aja!!....
Makalah Tentang PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE DAN TEKNIK BERCERITA
PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE
DAN TEKNIK BERCERITA
Metode pembelajaran adalah sebuah konsep cara yang digunakan oleh guru untuk mengelola pembelajaran agar materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik terhaap sisa sesuai dengan tujuan yang dinginkan.
Teknik pembelajaran adalah aplikasi atau penerapan dari sebuah metode.
Metode dan teknik pembelajaran sangat berkaitan erat karena sebuah metode pembelajaran tidak akan berhasil tanpa menggunakan teknik.
Berikut saya jelaskan metode dan beberapa teknik bercerita :
METODE BERCERITA
Pengertian
Yang dimaksud dengan metode bercerita adalah cara mengajar dalam bentuk menuturkan/menyampaikan cerita atau memberikan penerangan secara lisan.
Tujuan
Tujuan dari metode bercerita adalah :
Melatih daya tangkap dan daya konsentrai anak didik
Melatih daya piker dan fentasi anak
Megembangkan kemampuan berbahasa dan menambah pembendahaaan kata kepada anak didik
Menciptakan suasana senang di kelas
Kebaikan Metode Bercerita
Dapat membangkitkan minat anak
Menumbuhkan sikap perilaku yang positif pada anak
Menanamkan nilai-nilai moral
Menumbuhkan imajinasi anak
Melatih pendenganran anak
Mengenadlikan emosi
Memperkaya kosa kata
Mengembangkan daya piker
Menumbuhkan rasa cinta tanah air
Kelemahan Metode Bercerita
Dapat membuat anak pasif
Apabila alat peraga tidak menarik anak krang aktif
Anak belum tahu dapat mengulang cerita kembali
Waktu cerita berlangsung anak yang mengemukakan pendapatnya sehingga mengganggu jalannya cerita.
Pembelajaran dengan menggunakan metode berceritaakan menghasilkan mutu yang baik apabila cara menguasai teknik-teknik bercerta. Berikut beberapa teknik dalam bercerita
Teknik Bercerita Tanpa Alat Peraga
Langkah-langkah pelaksanaan
Guru mengatur organisasi kelas (Posisi tempat duduk anak)
Guru merangsang anak agar mau mendengarkan dan memperhatikan isi cerita
Guru mulai bercerita, (cerita sederhana) dengan terlebih dahulu menyebutkan judul certa
Setelah selesai bercerita, guru memberikan tugas pada anak-anak, untuk menceritakan kembali isi cerita tersebut secara bergantian
Guru memberikan pujian pada anak yang sudah bias dan memberikan motovasi kepada anak yang belum
Contoh cerita :
Siburik yang Serakah
Catatan :
Dalam melukiskan peristiwa pada cerita tersebut di atas hendaknya jangan dengan gerak-gerik terlalu realities. Misalnya waktu melukiskan si Burik yang sedang lari. Cukup menggerakan kaki dan tangan saja sambil berdiri atau duduk.
Cerita hendaknya cukup singkat dan sederhana bahasanya mudah dimengerti anak.
Intonasi suara agar disesuaikan dengan isi cerita
Isi cerita dapat ungkin disesuaikan dengan tema
Kegiatan bercerita biasanya diberikan pada saat pembukaan atau oenutupan
Apabila kegiatan tersebut diberikan dalam kegiatan inti agar suara guru jangan sampai mengganggu kelompok yang lain.
Teknik Bercerita dengan Menggunakan Alat Peraga Langsung
Misal "Seorang Guru bercerita dengan judul cerita"
Seekor Kelinci Putih dan Kol
Langkah – Langkah pelaksanaan :
Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan
Guru memberikan pendahuluan dengan membicarakan tentang alat peraga seekor kelinci dan daun kol. Misalnya tentang warna bulu kelinci, nama, julah kaki, betuk telingan, makanannya, bagaimana berjalannya, dan sebagainya, sambil anak diberi kesempatan untuk memegang dan membelai kelinci dan sebagainya.
Setelah cukup memberikan penjelasan tentang alat peraga (kelinci) guru memasukan kelinci ke dalam kandang, lalu guru bercerita.
Guru merangsang anak untuk mendengarkancerita
Setelah selesai bercerita guru memberikan pertanyaan kepada anak tentang apa, mengapa, di mana, berapa, bangamana, dan sebagainya.
Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menjawab pertanyaan guru tersebut
Bagi anak yang sudah dapat menjawab dengan benar diberikan pujian dan bagi yang belum diberi dorangan motivasi
Contoh Cerita :
Kelinci Putih dan Daun Kol.
Catatan :
Isi cerita sedapat mungkin disesuikan dengan tema
Isi cerita pada pendahuluan dipersingkat dan hanya mengandung garis besarnya saja
Guru membawakan cerita, dengan gaya dan suara serta dialog yang menarik
Kegiatan tersebut dilakukan secara klasikal.
Pelaksanaan seperti tersebut diatas berlaku juga untuk metode bercerita dengan menggunakan alat peraga tiruan maupun gambar.
Teknik Bercerita Dengan Menggunakan Gambar-Gambar
Langkah – langkah Pelaksanaan :
Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan (gambar-gambar)
Guru mengatur posisi tempat duduk anak sesuai dengan yang direncanakan.
Guru menarik perhatian anak agar mendengarkan cerita
Guru bercerita dengan memperlihatkan alat peraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan
Guru bercerita dengan memperhatikan alat paraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan.
Guru memberikan pertanyaan tentang isi cerita pendek tersebut satu persatu (bertahap) kepada anak secara bergantian, misalnya :
Sedang apakah kumbang dan lalat?
Anak menjawab pertanyaan guru satu per satu kalimat pertanyaan sampai dengan 3 (tiga) pertanyaan. Setiap pertanyaan merupakan satu kalimat.
Bagaimana yang sudah dapat menjawab pertanyaan diberikan pujian dan bagi anak yang belum dapat menjawab pertanyaan dengan benar diberikan motovasi.
Catatan :
Pertanyaan yang diajukan kepada anak masing-masing anak sebanyak 3 pertanyaan yan setiap pertanyaan merupakan pertanyaan tunggal dan diharapkan langsung dijawab oleh anak. Guru sebaiknya menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan kepada anak.
Contoh cerita :
Semut yang Baik Hti
Catatan :
Isi cerita sedapat mungkin dikaitkan dengan tema
Pertanyaan isi cerita dilaksanakan setelah guru selesai bercerita
Pada pelasanaan bentuk cerita dengan gambar, setiap kali cerita ditunda sebentar untuk menjelaskan gambar sesuai dengan banyaknya gambar yang ada. Hal ini hendaknya dilakasanakan selancar mungkin, sehingga anak tidak merasa bahwa ceritanya diputuis-putus.
Gambar – gambar yang dipergunakan hendaknya memenuhi juga persyaratan seperti cukup besar untuk dapat dilihat oleh semua anak, berwarna alami dan menarik, tidak terlalu banyak "Hiasan" yang mengaburkan isi cerita
Gambar yang digunakan boleh satu atau lebih
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara klasikal
DAN TEKNIK BERCERITA
Metode pembelajaran adalah sebuah konsep cara yang digunakan oleh guru untuk mengelola pembelajaran agar materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik terhaap sisa sesuai dengan tujuan yang dinginkan.
Teknik pembelajaran adalah aplikasi atau penerapan dari sebuah metode.
Metode dan teknik pembelajaran sangat berkaitan erat karena sebuah metode pembelajaran tidak akan berhasil tanpa menggunakan teknik.
Berikut saya jelaskan metode dan beberapa teknik bercerita :
METODE BERCERITA
Pengertian
Yang dimaksud dengan metode bercerita adalah cara mengajar dalam bentuk menuturkan/menyampaikan cerita atau memberikan penerangan secara lisan.
Tujuan
Tujuan dari metode bercerita adalah :
Melatih daya tangkap dan daya konsentrai anak didik
Melatih daya piker dan fentasi anak
Megembangkan kemampuan berbahasa dan menambah pembendahaaan kata kepada anak didik
Menciptakan suasana senang di kelas
Kebaikan Metode Bercerita
Dapat membangkitkan minat anak
Menumbuhkan sikap perilaku yang positif pada anak
Menanamkan nilai-nilai moral
Menumbuhkan imajinasi anak
Melatih pendenganran anak
Mengenadlikan emosi
Memperkaya kosa kata
Mengembangkan daya piker
Menumbuhkan rasa cinta tanah air
Kelemahan Metode Bercerita
Dapat membuat anak pasif
Apabila alat peraga tidak menarik anak krang aktif
Anak belum tahu dapat mengulang cerita kembali
Waktu cerita berlangsung anak yang mengemukakan pendapatnya sehingga mengganggu jalannya cerita.
Pembelajaran dengan menggunakan metode berceritaakan menghasilkan mutu yang baik apabila cara menguasai teknik-teknik bercerta. Berikut beberapa teknik dalam bercerita
Teknik Bercerita Tanpa Alat Peraga
Langkah-langkah pelaksanaan
Guru mengatur organisasi kelas (Posisi tempat duduk anak)
Guru merangsang anak agar mau mendengarkan dan memperhatikan isi cerita
Guru mulai bercerita, (cerita sederhana) dengan terlebih dahulu menyebutkan judul certa
Setelah selesai bercerita, guru memberikan tugas pada anak-anak, untuk menceritakan kembali isi cerita tersebut secara bergantian
Guru memberikan pujian pada anak yang sudah bias dan memberikan motovasi kepada anak yang belum
Contoh cerita :
Siburik yang Serakah
Catatan :
Dalam melukiskan peristiwa pada cerita tersebut di atas hendaknya jangan dengan gerak-gerik terlalu realities. Misalnya waktu melukiskan si Burik yang sedang lari. Cukup menggerakan kaki dan tangan saja sambil berdiri atau duduk.
Cerita hendaknya cukup singkat dan sederhana bahasanya mudah dimengerti anak.
Intonasi suara agar disesuaikan dengan isi cerita
Isi cerita dapat ungkin disesuaikan dengan tema
Kegiatan bercerita biasanya diberikan pada saat pembukaan atau oenutupan
Apabila kegiatan tersebut diberikan dalam kegiatan inti agar suara guru jangan sampai mengganggu kelompok yang lain.
Teknik Bercerita dengan Menggunakan Alat Peraga Langsung
Misal "Seorang Guru bercerita dengan judul cerita"
Seekor Kelinci Putih dan Kol
Langkah – Langkah pelaksanaan :
Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan
Guru memberikan pendahuluan dengan membicarakan tentang alat peraga seekor kelinci dan daun kol. Misalnya tentang warna bulu kelinci, nama, julah kaki, betuk telingan, makanannya, bagaimana berjalannya, dan sebagainya, sambil anak diberi kesempatan untuk memegang dan membelai kelinci dan sebagainya.
Setelah cukup memberikan penjelasan tentang alat peraga (kelinci) guru memasukan kelinci ke dalam kandang, lalu guru bercerita.
Guru merangsang anak untuk mendengarkancerita
Setelah selesai bercerita guru memberikan pertanyaan kepada anak tentang apa, mengapa, di mana, berapa, bangamana, dan sebagainya.
Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menjawab pertanyaan guru tersebut
Bagi anak yang sudah dapat menjawab dengan benar diberikan pujian dan bagi yang belum diberi dorangan motivasi
Contoh Cerita :
Kelinci Putih dan Daun Kol.
Catatan :
Isi cerita sedapat mungkin disesuikan dengan tema
Isi cerita pada pendahuluan dipersingkat dan hanya mengandung garis besarnya saja
Guru membawakan cerita, dengan gaya dan suara serta dialog yang menarik
Kegiatan tersebut dilakukan secara klasikal.
Pelaksanaan seperti tersebut diatas berlaku juga untuk metode bercerita dengan menggunakan alat peraga tiruan maupun gambar.
Teknik Bercerita Dengan Menggunakan Gambar-Gambar
Langkah – langkah Pelaksanaan :
Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan (gambar-gambar)
Guru mengatur posisi tempat duduk anak sesuai dengan yang direncanakan.
Guru menarik perhatian anak agar mendengarkan cerita
Guru bercerita dengan memperlihatkan alat peraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan
Guru bercerita dengan memperhatikan alat paraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan.
Guru memberikan pertanyaan tentang isi cerita pendek tersebut satu persatu (bertahap) kepada anak secara bergantian, misalnya :
Sedang apakah kumbang dan lalat?
Anak menjawab pertanyaan guru satu per satu kalimat pertanyaan sampai dengan 3 (tiga) pertanyaan. Setiap pertanyaan merupakan satu kalimat.
Bagaimana yang sudah dapat menjawab pertanyaan diberikan pujian dan bagi anak yang belum dapat menjawab pertanyaan dengan benar diberikan motovasi.
Catatan :
Pertanyaan yang diajukan kepada anak masing-masing anak sebanyak 3 pertanyaan yan setiap pertanyaan merupakan pertanyaan tunggal dan diharapkan langsung dijawab oleh anak. Guru sebaiknya menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan kepada anak.
Contoh cerita :
Semut yang Baik Hti
Catatan :
Isi cerita sedapat mungkin dikaitkan dengan tema
Pertanyaan isi cerita dilaksanakan setelah guru selesai bercerita
Pada pelasanaan bentuk cerita dengan gambar, setiap kali cerita ditunda sebentar untuk menjelaskan gambar sesuai dengan banyaknya gambar yang ada. Hal ini hendaknya dilakasanakan selancar mungkin, sehingga anak tidak merasa bahwa ceritanya diputuis-putus.
Gambar – gambar yang dipergunakan hendaknya memenuhi juga persyaratan seperti cukup besar untuk dapat dilihat oleh semua anak, berwarna alami dan menarik, tidak terlalu banyak "Hiasan" yang mengaburkan isi cerita
Gambar yang digunakan boleh satu atau lebih
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara klasikal
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT - artikel tentang masyarakat
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan bermasyarakat agama sangat berperan penting dalam masyarakat, untuk mengatasi prsoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Agama, golongan masyarakat, dan fungsi agama?
2. Bagaimana peran agama dalam kehidupan?
3. Apa pengaruh agama dalam kehidupan?
4. Bagaimana peran pemimpin dalam pembangunan?
BAB II
PEMBAHASAN
AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
A. Pengertian Agama, Golongan Masyarakat, dan Fungsi Agama
Menurut Hendropuspito, agama adalah suatu jenis system social yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumnya. Dalam kamus sosiologi, pengertian agama ada tiga macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; (3) ideology mengenai hal-hal yang bersifat supranatural. Sementara itu, Thomas F.O’Dea mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris atau supra-empiris.
E..B. Tylor dalam buku perintisnya, primitive culture, yang diterbitkan pada tahun 1871. Dia mendefinisikan agama sebagai “ kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual”, definisi dari tylor itu dikritik lebih jauh karena tampaknya definisi itu berimplikasi bahwa sasaran sikap keagamaan selalu berupa wujud personal, padahal bukti antropologik yang semakin banyak jumlahnya menunjukan bahwa wujud spiritual pun sering dipahami sebagai kekuatan impersonal.
Selanjutnya, golongan masyarakat dapat diartikan sebagai penggolongan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu kelompok yang mempunyai karakteristik yang sama atau sejenis. Dalam kamus sosiologi dinyatakan sebagai kategori orang-orang tertentu, dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada cirri-ciri mental tertentu.
Berdasarkan definisi di atas, penggolongan masyarakat dapat dibuat berdasarkan cirri yang sama. Misalnya, (1) penggolongan berdasarkan jenis kelamin adalah pria dan wanita; (2) penggolongan berdasarkan usia adalah tua dan muda; (3) penggolongan berdasarkan pendidikan adalah cendekia dan buta huruf; (4) penggolongan berdasarkan pekerjaan adalah petani, nelayan, golongan buruh, pengrajin, pegawai negeri, eksekutif, dan lain-lain. Menurut Hendropuspito, meskipun tidak dapat dibuat berdasarkan kedudukan social yang sama, seperti pada lapisan social, penggolongan ini pada dasarnya untuk kepentingan pengamat social alam penelitian-penelitian terhadap masyarakat.
Adapun yang dimaksud dengan fungsi agama adalah peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama, yaitu (1) sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, (2) sarana hubungan transcendental melalui pemujaan dan pacara ibadat, (3) penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada, (4) pengkoreksi fungsi yang ada, (5) pemberi identitas diri, dan (6) pendewasaan agama. Fungsi agama yang dijelaskan hendrapuspito lebih ringkas lagi, tetapi intinya hampir sama. Menurutnya, fungsi agama itu adalah edukatif, penyelamatan, pengawasan social, memupuk persaudaraan dan transformatif.
B. Agama dan Kehidupan
Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan ghaib, luar biasa atau supranatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan ghaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empiric dan ilmiah.
Ketergantungan masyarakat dan individu pada keuatan ghaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman moden ini, kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Kepercayaan terhadap sucinya sesuatu itu dinamakan dalam antropologi dan sosiologi agama dengan mempercayai sifat sacral pada sesuatu itu, mempercayai sesuatu sebagai yang suci atau sacral juga cirri khas kehidupan beragama, adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk kehidupan beragama. Semuanya ini menunjukan bahwa kehidupan beragama aneh tapi nyata, dan merupakan gejala universal, ditemukan di mana dan kapan pun dalam kehidupan individu dan masyarakat.
Beragama sebagai gejala universal masyarakat manusia juga diakui oleh Begrson (1859-1941), pemikir prancis. Ia menulis bahwa kita menemukan masyarakat manusia tanpa sains, seni dan filsafat, tetapi tidak pernah ada masyarakat tanpa agama (El-Ehwani dalam sharif, 1963:556).
Di samping universal, kehidupan beragama di zaman modern ini sudah demikian kompleks. Banyak macam agama yang dianut mamusia dewasa ini. Aliran kepercayaan,aliran kebatinan, aliran pemujaan atau yang dikenal dalam ilmu social dengan istilah occultisme juga banyak ditemukan di kalangan masyarakat modern. Kehidupan beragama dewasa ini ada yang dijadikan tempat penyejuk jiwa dan pelarian dari hiruk pikuk ekonomi dan social politik sehari-hari, ada pula yang dijadikan sumber motivasi untuk mencapai kehidupan ekonomi dan social politik, di samping itu kehidupan beragama punya pengaruh terhadap aspek kehidupan yang lain. Anne Marie Malefijt mengungkapkan bahwa agama adalah tipe the most important aspects of culture yang dipelajari oleh ahli antropologi dan ilmuwan social lainnya. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan instutusi budaya yang lain. Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia,nilai, moral,system keluarga, ekonomi, hokum, politik, pengobatan,sains, teknologi,seni, pemberontakan, perang, dll. Dari apa yang dikemukakan oleh Malefitj adalah bahwa agama mewarnai dan membentuk suatu budaya.
Agama atau minimal pendekatan keagamaan adalah cara yang efektif dalam membentuk kepribadian dan kebudayaan, baik beragama sebagai system social budaya atau sebagai subsistem yang universal sebagai tipe penampilan serta penghayatannya dikalangan kelompok-kelompok masyarakat, dari yang sekedar untuk mencapai kesejukan sampai kepada tidak merasa bersalah tidak melakukan tindakan terror terhadap masyarakat yang tidak berdosa, menjadikannya sangat penting dipahami oleh setiap individu dan lembaga yang berurusan dengan masyarakat.
Terdapat perbedaan kehidupan beragama di kalangan masyarakat primitive dan masyarakat modern. Dalam masyarakat primitive, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan lain; beragama dan kegiatan sehari-hari menyatu. Beragama merupakan sistam social budaya. Dalam masyarakat modern, kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan sehari-hari.
Geertz mengungkap betapa kompleks dan mendalamnya kehidupan beragama. Agama tampak tumpang tindih dengan kebudayaan (Geertz 1992).Kemudian kompleksitas dan luasnya ruang lingkup ajaran agama dapat dilihat dalam ajaran islam. Sebagai agama wahyu yang terakhir, islam adalah ajaran yang komprehensif dan terpadu, yaitu mencakup bidang ibadat, perkawinan, waris, ekonomi, politik, hubungan internasional, dan seterusnya.
Namun dalam fenomena social budaya, dalam kehidupan umat islam di zaman modern ini, kehidupan beragama menjadi menciut dalam aspek kecil dan kehidupan sehari-hari, yaitu yang berhubungan dengan yang ghaib dan ritual saja. Kehidupan beragama umat islam dewasa ini menjadi subsistem social budayanya. Fenomena penciutan beragama ini karena pengaruh budaya modernism dan sekularisme. Walaupun pengaruh modernism dan sekularisme demikian kuat, ia juga menimbulkan gerakan dan aliran keagamaan dalam rangka melawan dominasi modernism dan sekularisme tersebut, seperti aliran skripturalis dan gerakan terror. Maraknya aliran kebatinan, occultism, aliran ekslusif lainnya menjadikan fenomena kehidupan beragama makin kompleks. Semua ekslusivitas dan kompleksitas kehidupan beragama ini menjadikannya menarik untuk diteliti secara antropologis. Kajian antropologi terhadap berbagai aliran ekslusif juga akan menjelaskan akar-akar budaya dari objek yang dikaji, secara mencoba memahami gejala tesebut dalam konteks budaya yang bersangkutan.
C. Pengaruh Agama Terhadap Golongan Masyarakat
Untuk mengetahui pengaruh agama terhadap masyarakat, ada tiga aspek yang perlu dipelajari, yaitu kebudayaan, system social, dan kepribadian ketiga aspek itu merupakan fenomena social yang prilaku manusia. Maka timbul pertanyaan : sejauh mana fungsi lembaga agama dalam memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu system? Dan sejauh mana fungsi agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi.
Berkaitan dengan hal ini, Nottingham menjelaskan secara umum tentang hubungan agama dengan masyarakat yang menurutnya, terbagi tipe-tipe. Tampaknya pembagia ini mengikutui konsep August Comte tentang proses tahapan pwembentukan masyarakat. Adapun tipe-tipe yang di maksud Nottingham itu adalah sebagai berikut.
1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sacral. Tipe masyarakat ini kecil, terisolasi dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Tidak ada lembaga lain yang relative berkembang selain lembaga keluarga, agama menjadi focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan masyarakat dari masyatakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, kemungkinan agama memasukan pengaruh yang sacral ke dalam system nilai-nilai masyarakat sangat mutlak.
2. Masyarakat praindustri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system nilai dalam tipe masyarakat ini. Tetapi, pada saat yang sama, lingkungan yang sacral dan yang sekuler sedikit-banyak masih dapat dibedakan. Misalnya, pada fase-fase kehidupan social masih diisi oleh upacara-upacara keagamaan, tetapi pada sisi kehidupan lain, pada aktivitas sehari-hari, agama kurang mendukung. Agama hanya mendukung masalah adat-istiadat saja.Nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat menempatkan focus utamanya pada pengintegrasian tingkah laku perseorangan, dan pembentukan citra pribadi mempunyai konsekuensi penting bagi agama.Salah satu akibatnya,anggota masyarakat semakin terbiasa dengan penggunaan metode empiris yang berdasarkan penalaran dan efesiensi dalam menanggapi masalah- masalah kemanusiaan sehingga lingkungan yang bersifat sekuler semakin meluas.
Memiliki karakter-karakter yang dikemukakan Notting ham tersebut,tampaknya pengaruh agama terhadap golongan masyarakat pun, jika dilihat dari karakter masing-masing golongan pekerjaan,tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap masyarakat yang digambarkan Notting ham secara umum,karna system masyarakat akan mencerminkan budaya masyarakatnya.
1. Golongan petani.Pada umumnya,golongn petani termasuk masyarakat yang terbelakang.Lokasinya berada didaerah terisolasi system masyarakatnya masih sederhana,lembaga-lembaga sosialnyapun belum banyak berkembang.Mata pencaharian utamanya bergantung pada alam yang tidak bisa dipercepat,diperlamba,atau dperhitungkan secara cermat sesuai dengan keinginan petani.Faktor subur tidaknya tanah,dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang brada di luar jangkauan petani oleh sebab itu,mereka mencari kekuatan dan kemampuan di luar dirinya yang dipandang mampu dandapat mengatasi semua persoalan yang telah atau akan menimpa dirinya.Maka,diadakanlah upacara-upacara atau ritus-ritus yang dianggap sebagai tolak bala atau menghormati dewa.Menyediakan sesajen bagi Dewi Sri,yang dipercayai sebagai pelindung sawah dan ladang.
Dengan pengamatan selintas pengaruh agama tehadap golongan petani cukup besar.Jiwa keagamaan mereka relaitf lebih besar karena kedekatannya dengan alam.
2. Golongan nelayan.Karakter pekerja golongan nelayan hampir sama dengan karakter golongan petani.Mata pencahariannya berganyung pada keramahan alam.Jika musimnya sedang bagus,tidak ada badai,boleh jadi tangkapan ikannya melimpah.Biasanya pada waktu-waktu tertentu ada semacam upacara untuk menghormati penguasa laut,yang pada masyarakat Indonesia dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.Berdasarkan fakta tersebut,pengaruh agama pada kehidupan nelayan dapat dikatakan signifikan.
3. Golongan pengrajin dan pedagang kecil.Golongan pengrajin dan pedagang kecil hidup dalam situasi yang berbeda dengan golongan petani.Kehidupan golongan ini tidak terlalu berkutat dengan situasi alam dan tidak terlalu bergantung pada alam.Hidup mereka didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional.Mereka tidak menyadarkan diri pada keramahan alam yang tidak bisa dipastikan,tetapi lebih mempercayai perencanaan yang teliti danpengarahan yang pasti.
Menurut Weber yang mempelajari sejarah agama-agama dengan cara yang berlaku pada zamannya,yaitu agma Kristen,Yahudi,Islam,Hindu,Budha,dan konfusianisme,Taoisme golongan pengrajin dan pedagang kecil suka menerima pandangan hidup yang mencakup etika pembalasan. Mereka menaati kaidah moral dan pola sopan santun dan percaya bahwa pekerjaan yang baik dilakukan dengan tekun dan teliti akan membawa balas jasa yang setimpal.
4. Golongan pedagang besar.Kategori yang paling menonjol dari golongan pedagang besar adalah memiliki sikapnya yang lain terhadap agama.Pada umumnya kelompok ini mempunyai jiwa yang jauh dari gagasan tentang imbalan jasa (compensation) moral,seperti yang dimiliki golongan tingkat menengah bawah.mereka lebih berorientasi pada kehidupan nyata (mundane) dan cenderung menutup agama profetis dan etis. Perasaan keagamaannya lebih bersifat fungsional, kemampuan yang mereka miliki terletk pada kekuatan ekonominya.
5. Golongan kariyawan.Weber menyebut golongan karyawan sebagai kaum birokrat. Hal ini dilihat dari pembagian fungsi-fungsi kerja yang ada sudah jelas dan adanya penyelesaian suatu masalah kemanusiaan berdasarkan penalaran dan efisiensi.
6. Golongan buruh. Yang dimaksud dengan golongan buruh adalah mereka yang bekerja dalam industri-industri atau perusahan-perusahaan modern. Golongan buruh termasuk kelas proletar yang tidak diikutsertakan dalam kehidupan masyarakat,disingkirkan dari system social yang berlaju.Kelas ini merupakan golongan yang dijadikan sapi perahan untuk meraup keuntungan yang sangat besar oleh kaum borjuis.Agama yang dibutuhkan oleh golongan buruh tampaknya agama yang bisa membebaskan dirinya dari penghisapan tenega kerja segara berlebihan.
7. Golongan tua-muda. Meskipun secara social penggolongan tua muda ini ada, tetapi susah ditentukan batasannya secara praktis. Berdasarkan pengamatan sepintas tersebut, dapat dikatakan bahwa agama pada golongan tua lebih kental dibandingkan dengan golongan muda. Nanun, bila asumsi ini diterapkan pada zaman sekarang, ternyata mengalami kesulitan juga, karena tidak jarang banyak orang yang berumur 40 ke atas berlaku seperti anak muda.
8. Golongan pria-wanita. Secara psikologis, watak umum pria dan wanita berbeda. Dalam menghadapi suatu keadaan, watak pria lebih dominan menggunakan pertimbangan rasional, sedangkan wanita lebih rasa / emosinya.
Jika dlihat secara keseluruhan, tujuan beragama seseorang itu rata-rata untuk nencari ketenangan bathin.Dalam masalah penghayatan keagamaan, tampaknya golongan wanita lebih dominan,karena faktor pembawaan mereka umumnya cenderung emosional.
D. Peranan Pemimpin Dalam Pembangunan
Tujuan pembangunan pada mulanya sederhana saja, yakni memberantas kemiskinan dan menjembatani kesenjangan. Ketika decade pembangunan dicanangkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB), segera setelah perang dunia kedua, masalah yang dihadapi saat itu adalah kehancuran ekonomi dan prasarana dari Negara-negara yang kalah atau menjadi korban peperangan. Oleh karena itu,perhatian ulama pembangunan ditekankan pada rehabilitasi dan rekonstruksi sarana-sarana ekonomi.
Membahas peranan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan memang sangat menarik, bukan saja lantaran para pemimpin agama merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan juga pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat utuh dan serasi antara kemajuaan aspek lahiriah dan kepuasan aspek bathiniah. Corak pembangunan seperti ini didasarkan pemikiran bahwa keberadaan manusia yang akan dibangun, pada dasarnya, terdiri atas unsure jasmaniah dan unsure ruhaniah. Kedua unsure ini tentu harus terisi dalam proses pembangunan.
Pentingnya keterlibatan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniahnya, para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan tidak bersifat suplementer (pelengkap penderita), tetapi benar-benar menjadi salah satu komponen inti dalam seluruh proses pembangunan. Dalam pelaksanaanya, bahkan para pemimpin agama dapat berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat, tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing, dan pemberi landasan etis dan moral, serta menjadi mediator dalam seluruh aspek kegiatan pembangunan.
1. Pemimpin Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat di sangkal bahwa peran para pemimpin agama sebagai motivator pembangunan sudah banyak di akui dan terbukti di masyarakat.
Terlibatnya para pemimpin agama dalam kancah kegiatan pembangunan ini, terutama di dorong oleh kesadaran untk ikut secara aktif memikirkan permasalahan-permasalahan duniawi yang sangat kompleks yang dihadapi umat manusia.Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia di dunia ini sampai pemerintahan sekuler tidak dapat lagi memecahkannya tanpa bantuan dari pihak pemimpin agama, seperti pemberantasan kemiskinan, mengatasu kesenjangan, mencegah kerusakan lingkungan, dan mencegah terjadinya pelanggaran terhadap hak asasi manusia.Tentu para pemimpin agama tidak dapat diam berpangku tangan dengan mengatakan bahwa agama tidak mengurusi permasalahan umat yang bersifat fisik, Agama hanya mengurusi aspek spiritual damn kehidupan manusia, pemikiran seperti ini akan mengakibatkan agama-agama di dunia ini dijauhioleh umat manusia.
Selain itu, para pemimpin agama juga diharapkan mampu merangsang masyarakat agar berani melakukan perubahan-perubahan kehidupan ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Para pemimpin agama dapat memberikan semangat kepada masyarakat untuk selalu giat berusaha, jangan sekali-kali untuk bersifat fatalis. Para pemimpin agama seyogianya memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa takdir hanyalah batas akhir dari upaya manusia dalam meraih prestasi.Dengan demikian para pemimpin agama telah mampu membuktikan kemampuannya untuk berbicara secara rasional dan tetap membangkitkan gairah serta aksi masyarakat dalam meraih sesuatu yang dicita-citakannya.
2. Pemimpin Agama Sebagai Pembimbing Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan dengan upaya-upaya menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam kaitannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual serta peningkatan pengalaman agama, baikdalam kehiduan pribadi maupun social.
Berangkat dari landasan etis dan moral inilah, kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta pengakuan atas kedaulatan seseorang atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan nuraninya. Di sinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.
Tuntutan dan patokan yang tertuang dalam kitab suci, teladan para nabi, dan hukum-hukum agama yang merupakan elaborasi dari sabda Tuhan menurut hasil pemikiran para pemuka, pemimpin dan pemikir agama pada masa lalu, mereka jadikan bahan untk membimbing arah kegiatan pembangunan secara menyeluruh.
3. Pemimpin Agama Sebagai Mediator
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya, juga dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan di masyarakat adalah sebagai wakil masyarakat dan seagai pengantar dalam menjalin kerja sama yang harmonis di antara banyak pihak dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya.
Untuk membela kepentingan-kepentingan ini, para pemimpin agama biasanya memposisikan diri sebagai mediator di antara beberapa pihak di masyarakat, seperti antara masyarakat dengan elite pengusaha dan antara masyarakat miskin dengan kelompok orang-orang kaya. Melalui pemimpin agama, para elite pengusaha dapat memahami apa yang diinginkan masyarakat, dan sebaliknya elite pengusaha dapat mensosialisasikan program-programnya kepada masyarakat luas melalui bantuan para pemimpin agama.
Munculnya kerja sama antara para pemimpin agama di satu pihak dengn kalangan kaya dan penguasa di pihak lain merupakan fenomena social yang umum terjadi di kalangan umat beragama. Dari sudut formal keagamaan, kerja sama para pemimpin keagamaan dengan kalangan hartawan dan dan penguasa ini memang tidak dapat apa-apa. Sebab, sesunggguhnya kerja sama para pemimpin agama dengan kalangan kaya dan penguasa, pada prinsipnya, tidak bisa di nilai buruk. Agama bagaimanapun, merupakan rahmat bagi segenap manusia, tak peduli miskin atau kaya, penguasa atau rakyat jelata,di sinilah pemimpin agama menyadari bahwakerja sama mereka tidak lain adalah untuk kepentingan menegakkan keadilan social dan untuk membeli kepentingan orang-orang kecil.
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB III
KESIMPULAN
Agama mempunyai kaitan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi sebagai peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena keternatasan dan ketidakpastian.
Pentingnya keterlibatan pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniah. Dalam pelaksanaanya. Bahkan pemimpin agama dalam berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing. Dan pembei landasan etis dan moral serta menjadi mediator dalam seluruh kegiatan aspek pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Agus, Bustanuddin, Agama dalam Kehidupan Masyarakat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
2. Scharf, R, Betty, Sosilogi Agama, Fajar Interpratama Offset, Jakarta, 2004.
3. Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Download File lengkap makalah agama dan golongan masyarakat versi microsoft Word 2003 dan 2007 klik di download makalah anakciremai
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan bermasyarakat agama sangat berperan penting dalam masyarakat, untuk mengatasi prsoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Agama, golongan masyarakat, dan fungsi agama?
2. Bagaimana peran agama dalam kehidupan?
3. Apa pengaruh agama dalam kehidupan?
4. Bagaimana peran pemimpin dalam pembangunan?
BAB II
PEMBAHASAN
AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
A. Pengertian Agama, Golongan Masyarakat, dan Fungsi Agama
Menurut Hendropuspito, agama adalah suatu jenis system social yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umumnya. Dalam kamus sosiologi, pengertian agama ada tiga macam, yaitu (1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; (3) ideology mengenai hal-hal yang bersifat supranatural. Sementara itu, Thomas F.O’Dea mengatakan bahwa agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra-empiris untuk maksud-maksud non-empiris atau supra-empiris.
E..B. Tylor dalam buku perintisnya, primitive culture, yang diterbitkan pada tahun 1871. Dia mendefinisikan agama sebagai “ kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual”, definisi dari tylor itu dikritik lebih jauh karena tampaknya definisi itu berimplikasi bahwa sasaran sikap keagamaan selalu berupa wujud personal, padahal bukti antropologik yang semakin banyak jumlahnya menunjukan bahwa wujud spiritual pun sering dipahami sebagai kekuatan impersonal.
Selanjutnya, golongan masyarakat dapat diartikan sebagai penggolongan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu kelompok yang mempunyai karakteristik yang sama atau sejenis. Dalam kamus sosiologi dinyatakan sebagai kategori orang-orang tertentu, dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada cirri-ciri mental tertentu.
Berdasarkan definisi di atas, penggolongan masyarakat dapat dibuat berdasarkan cirri yang sama. Misalnya, (1) penggolongan berdasarkan jenis kelamin adalah pria dan wanita; (2) penggolongan berdasarkan usia adalah tua dan muda; (3) penggolongan berdasarkan pendidikan adalah cendekia dan buta huruf; (4) penggolongan berdasarkan pekerjaan adalah petani, nelayan, golongan buruh, pengrajin, pegawai negeri, eksekutif, dan lain-lain. Menurut Hendropuspito, meskipun tidak dapat dibuat berdasarkan kedudukan social yang sama, seperti pada lapisan social, penggolongan ini pada dasarnya untuk kepentingan pengamat social alam penelitian-penelitian terhadap masyarakat.
Adapun yang dimaksud dengan fungsi agama adalah peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena adanya keterbatasan kemampuan dan ketidakpastian.
Thomas F. O’Dea menuliskan enam fungsi agama, yaitu (1) sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, (2) sarana hubungan transcendental melalui pemujaan dan pacara ibadat, (3) penguat norma-norma dan nilai-nilai yang sudah ada, (4) pengkoreksi fungsi yang ada, (5) pemberi identitas diri, dan (6) pendewasaan agama. Fungsi agama yang dijelaskan hendrapuspito lebih ringkas lagi, tetapi intinya hampir sama. Menurutnya, fungsi agama itu adalah edukatif, penyelamatan, pengawasan social, memupuk persaudaraan dan transformatif.
B. Agama dan Kehidupan
Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan ghaib, luar biasa atau supranatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan ghaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empiric dan ilmiah.
Ketergantungan masyarakat dan individu pada keuatan ghaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman moden ini, kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Kepercayaan terhadap sucinya sesuatu itu dinamakan dalam antropologi dan sosiologi agama dengan mempercayai sifat sacral pada sesuatu itu, mempercayai sesuatu sebagai yang suci atau sacral juga cirri khas kehidupan beragama, adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk kehidupan beragama. Semuanya ini menunjukan bahwa kehidupan beragama aneh tapi nyata, dan merupakan gejala universal, ditemukan di mana dan kapan pun dalam kehidupan individu dan masyarakat.
Beragama sebagai gejala universal masyarakat manusia juga diakui oleh Begrson (1859-1941), pemikir prancis. Ia menulis bahwa kita menemukan masyarakat manusia tanpa sains, seni dan filsafat, tetapi tidak pernah ada masyarakat tanpa agama (El-Ehwani dalam sharif, 1963:556).
Di samping universal, kehidupan beragama di zaman modern ini sudah demikian kompleks. Banyak macam agama yang dianut mamusia dewasa ini. Aliran kepercayaan,aliran kebatinan, aliran pemujaan atau yang dikenal dalam ilmu social dengan istilah occultisme juga banyak ditemukan di kalangan masyarakat modern. Kehidupan beragama dewasa ini ada yang dijadikan tempat penyejuk jiwa dan pelarian dari hiruk pikuk ekonomi dan social politik sehari-hari, ada pula yang dijadikan sumber motivasi untuk mencapai kehidupan ekonomi dan social politik, di samping itu kehidupan beragama punya pengaruh terhadap aspek kehidupan yang lain. Anne Marie Malefijt mengungkapkan bahwa agama adalah tipe the most important aspects of culture yang dipelajari oleh ahli antropologi dan ilmuwan social lainnya. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan instutusi budaya yang lain. Ekspresi religius ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia,nilai, moral,system keluarga, ekonomi, hokum, politik, pengobatan,sains, teknologi,seni, pemberontakan, perang, dll. Dari apa yang dikemukakan oleh Malefitj adalah bahwa agama mewarnai dan membentuk suatu budaya.
Agama atau minimal pendekatan keagamaan adalah cara yang efektif dalam membentuk kepribadian dan kebudayaan, baik beragama sebagai system social budaya atau sebagai subsistem yang universal sebagai tipe penampilan serta penghayatannya dikalangan kelompok-kelompok masyarakat, dari yang sekedar untuk mencapai kesejukan sampai kepada tidak merasa bersalah tidak melakukan tindakan terror terhadap masyarakat yang tidak berdosa, menjadikannya sangat penting dipahami oleh setiap individu dan lembaga yang berurusan dengan masyarakat.
Terdapat perbedaan kehidupan beragama di kalangan masyarakat primitive dan masyarakat modern. Dalam masyarakat primitive, kehidupan beragama tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan lain; beragama dan kegiatan sehari-hari menyatu. Beragama merupakan sistam social budaya. Dalam masyarakat modern, kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan beragama hanya salah satu aspek dari kehidupan sehari-hari.
Geertz mengungkap betapa kompleks dan mendalamnya kehidupan beragama. Agama tampak tumpang tindih dengan kebudayaan (Geertz 1992).Kemudian kompleksitas dan luasnya ruang lingkup ajaran agama dapat dilihat dalam ajaran islam. Sebagai agama wahyu yang terakhir, islam adalah ajaran yang komprehensif dan terpadu, yaitu mencakup bidang ibadat, perkawinan, waris, ekonomi, politik, hubungan internasional, dan seterusnya.
Namun dalam fenomena social budaya, dalam kehidupan umat islam di zaman modern ini, kehidupan beragama menjadi menciut dalam aspek kecil dan kehidupan sehari-hari, yaitu yang berhubungan dengan yang ghaib dan ritual saja. Kehidupan beragama umat islam dewasa ini menjadi subsistem social budayanya. Fenomena penciutan beragama ini karena pengaruh budaya modernism dan sekularisme. Walaupun pengaruh modernism dan sekularisme demikian kuat, ia juga menimbulkan gerakan dan aliran keagamaan dalam rangka melawan dominasi modernism dan sekularisme tersebut, seperti aliran skripturalis dan gerakan terror. Maraknya aliran kebatinan, occultism, aliran ekslusif lainnya menjadikan fenomena kehidupan beragama makin kompleks. Semua ekslusivitas dan kompleksitas kehidupan beragama ini menjadikannya menarik untuk diteliti secara antropologis. Kajian antropologi terhadap berbagai aliran ekslusif juga akan menjelaskan akar-akar budaya dari objek yang dikaji, secara mencoba memahami gejala tesebut dalam konteks budaya yang bersangkutan.
C. Pengaruh Agama Terhadap Golongan Masyarakat
Untuk mengetahui pengaruh agama terhadap masyarakat, ada tiga aspek yang perlu dipelajari, yaitu kebudayaan, system social, dan kepribadian ketiga aspek itu merupakan fenomena social yang prilaku manusia. Maka timbul pertanyaan : sejauh mana fungsi lembaga agama dalam memelihara sistem, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu system? Dan sejauh mana fungsi agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi.
Berkaitan dengan hal ini, Nottingham menjelaskan secara umum tentang hubungan agama dengan masyarakat yang menurutnya, terbagi tipe-tipe. Tampaknya pembagia ini mengikutui konsep August Comte tentang proses tahapan pwembentukan masyarakat. Adapun tipe-tipe yang di maksud Nottingham itu adalah sebagai berikut.
1. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sacral. Tipe masyarakat ini kecil, terisolasi dan terbelakang. Anggota masyarakatnya menganut agama yang sama. Tidak ada lembaga lain yang relative berkembang selain lembaga keluarga, agama menjadi focus utama bagi pengintegrasian dan persatuan masyarakat dari masyatakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, kemungkinan agama memasukan pengaruh yang sacral ke dalam system nilai-nilai masyarakat sangat mutlak.
2. Masyarakat praindustri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system nilai dalam tipe masyarakat ini. Tetapi, pada saat yang sama, lingkungan yang sacral dan yang sekuler sedikit-banyak masih dapat dibedakan. Misalnya, pada fase-fase kehidupan social masih diisi oleh upacara-upacara keagamaan, tetapi pada sisi kehidupan lain, pada aktivitas sehari-hari, agama kurang mendukung. Agama hanya mendukung masalah adat-istiadat saja.Nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat menempatkan focus utamanya pada pengintegrasian tingkah laku perseorangan, dan pembentukan citra pribadi mempunyai konsekuensi penting bagi agama.Salah satu akibatnya,anggota masyarakat semakin terbiasa dengan penggunaan metode empiris yang berdasarkan penalaran dan efesiensi dalam menanggapi masalah- masalah kemanusiaan sehingga lingkungan yang bersifat sekuler semakin meluas.
Memiliki karakter-karakter yang dikemukakan Notting ham tersebut,tampaknya pengaruh agama terhadap golongan masyarakat pun, jika dilihat dari karakter masing-masing golongan pekerjaan,tidak akan berbeda jauh dengan pengaruh agama terhadap masyarakat yang digambarkan Notting ham secara umum,karna system masyarakat akan mencerminkan budaya masyarakatnya.
1. Golongan petani.Pada umumnya,golongn petani termasuk masyarakat yang terbelakang.Lokasinya berada didaerah terisolasi system masyarakatnya masih sederhana,lembaga-lembaga sosialnyapun belum banyak berkembang.Mata pencaharian utamanya bergantung pada alam yang tidak bisa dipercepat,diperlamba,atau dperhitungkan secara cermat sesuai dengan keinginan petani.Faktor subur tidaknya tanah,dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang brada di luar jangkauan petani oleh sebab itu,mereka mencari kekuatan dan kemampuan di luar dirinya yang dipandang mampu dandapat mengatasi semua persoalan yang telah atau akan menimpa dirinya.Maka,diadakanlah upacara-upacara atau ritus-ritus yang dianggap sebagai tolak bala atau menghormati dewa.Menyediakan sesajen bagi Dewi Sri,yang dipercayai sebagai pelindung sawah dan ladang.
Dengan pengamatan selintas pengaruh agama tehadap golongan petani cukup besar.Jiwa keagamaan mereka relaitf lebih besar karena kedekatannya dengan alam.
2. Golongan nelayan.Karakter pekerja golongan nelayan hampir sama dengan karakter golongan petani.Mata pencahariannya berganyung pada keramahan alam.Jika musimnya sedang bagus,tidak ada badai,boleh jadi tangkapan ikannya melimpah.Biasanya pada waktu-waktu tertentu ada semacam upacara untuk menghormati penguasa laut,yang pada masyarakat Indonesia dikenal sebagai Nyi Roro Kidul.Berdasarkan fakta tersebut,pengaruh agama pada kehidupan nelayan dapat dikatakan signifikan.
3. Golongan pengrajin dan pedagang kecil.Golongan pengrajin dan pedagang kecil hidup dalam situasi yang berbeda dengan golongan petani.Kehidupan golongan ini tidak terlalu berkutat dengan situasi alam dan tidak terlalu bergantung pada alam.Hidup mereka didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional.Mereka tidak menyadarkan diri pada keramahan alam yang tidak bisa dipastikan,tetapi lebih mempercayai perencanaan yang teliti danpengarahan yang pasti.
Menurut Weber yang mempelajari sejarah agama-agama dengan cara yang berlaku pada zamannya,yaitu agma Kristen,Yahudi,Islam,Hindu,Budha,dan konfusianisme,Taoisme golongan pengrajin dan pedagang kecil suka menerima pandangan hidup yang mencakup etika pembalasan. Mereka menaati kaidah moral dan pola sopan santun dan percaya bahwa pekerjaan yang baik dilakukan dengan tekun dan teliti akan membawa balas jasa yang setimpal.
4. Golongan pedagang besar.Kategori yang paling menonjol dari golongan pedagang besar adalah memiliki sikapnya yang lain terhadap agama.Pada umumnya kelompok ini mempunyai jiwa yang jauh dari gagasan tentang imbalan jasa (compensation) moral,seperti yang dimiliki golongan tingkat menengah bawah.mereka lebih berorientasi pada kehidupan nyata (mundane) dan cenderung menutup agama profetis dan etis. Perasaan keagamaannya lebih bersifat fungsional, kemampuan yang mereka miliki terletk pada kekuatan ekonominya.
5. Golongan kariyawan.Weber menyebut golongan karyawan sebagai kaum birokrat. Hal ini dilihat dari pembagian fungsi-fungsi kerja yang ada sudah jelas dan adanya penyelesaian suatu masalah kemanusiaan berdasarkan penalaran dan efisiensi.
6. Golongan buruh. Yang dimaksud dengan golongan buruh adalah mereka yang bekerja dalam industri-industri atau perusahan-perusahaan modern. Golongan buruh termasuk kelas proletar yang tidak diikutsertakan dalam kehidupan masyarakat,disingkirkan dari system social yang berlaju.Kelas ini merupakan golongan yang dijadikan sapi perahan untuk meraup keuntungan yang sangat besar oleh kaum borjuis.Agama yang dibutuhkan oleh golongan buruh tampaknya agama yang bisa membebaskan dirinya dari penghisapan tenega kerja segara berlebihan.
7. Golongan tua-muda. Meskipun secara social penggolongan tua muda ini ada, tetapi susah ditentukan batasannya secara praktis. Berdasarkan pengamatan sepintas tersebut, dapat dikatakan bahwa agama pada golongan tua lebih kental dibandingkan dengan golongan muda. Nanun, bila asumsi ini diterapkan pada zaman sekarang, ternyata mengalami kesulitan juga, karena tidak jarang banyak orang yang berumur 40 ke atas berlaku seperti anak muda.
8. Golongan pria-wanita. Secara psikologis, watak umum pria dan wanita berbeda. Dalam menghadapi suatu keadaan, watak pria lebih dominan menggunakan pertimbangan rasional, sedangkan wanita lebih rasa / emosinya.
Jika dlihat secara keseluruhan, tujuan beragama seseorang itu rata-rata untuk nencari ketenangan bathin.Dalam masalah penghayatan keagamaan, tampaknya golongan wanita lebih dominan,karena faktor pembawaan mereka umumnya cenderung emosional.
D. Peranan Pemimpin Dalam Pembangunan
Tujuan pembangunan pada mulanya sederhana saja, yakni memberantas kemiskinan dan menjembatani kesenjangan. Ketika decade pembangunan dicanangkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB), segera setelah perang dunia kedua, masalah yang dihadapi saat itu adalah kehancuran ekonomi dan prasarana dari Negara-negara yang kalah atau menjadi korban peperangan. Oleh karena itu,perhatian ulama pembangunan ditekankan pada rehabilitasi dan rekonstruksi sarana-sarana ekonomi.
Membahas peranan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan memang sangat menarik, bukan saja lantaran para pemimpin agama merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan juga pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat utuh dan serasi antara kemajuaan aspek lahiriah dan kepuasan aspek bathiniah. Corak pembangunan seperti ini didasarkan pemikiran bahwa keberadaan manusia yang akan dibangun, pada dasarnya, terdiri atas unsure jasmaniah dan unsure ruhaniah. Kedua unsure ini tentu harus terisi dalam proses pembangunan.
Pentingnya keterlibatan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniahnya, para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan tidak bersifat suplementer (pelengkap penderita), tetapi benar-benar menjadi salah satu komponen inti dalam seluruh proses pembangunan. Dalam pelaksanaanya, bahkan para pemimpin agama dapat berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat, tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing, dan pemberi landasan etis dan moral, serta menjadi mediator dalam seluruh aspek kegiatan pembangunan.
1. Pemimpin Agama Sebagai Motivator
Tidak dapat di sangkal bahwa peran para pemimpin agama sebagai motivator pembangunan sudah banyak di akui dan terbukti di masyarakat.
Terlibatnya para pemimpin agama dalam kancah kegiatan pembangunan ini, terutama di dorong oleh kesadaran untk ikut secara aktif memikirkan permasalahan-permasalahan duniawi yang sangat kompleks yang dihadapi umat manusia.Begitu kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia di dunia ini sampai pemerintahan sekuler tidak dapat lagi memecahkannya tanpa bantuan dari pihak pemimpin agama, seperti pemberantasan kemiskinan, mengatasu kesenjangan, mencegah kerusakan lingkungan, dan mencegah terjadinya pelanggaran terhadap hak asasi manusia.Tentu para pemimpin agama tidak dapat diam berpangku tangan dengan mengatakan bahwa agama tidak mengurusi permasalahan umat yang bersifat fisik, Agama hanya mengurusi aspek spiritual damn kehidupan manusia, pemikiran seperti ini akan mengakibatkan agama-agama di dunia ini dijauhioleh umat manusia.
Selain itu, para pemimpin agama juga diharapkan mampu merangsang masyarakat agar berani melakukan perubahan-perubahan kehidupan ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Para pemimpin agama dapat memberikan semangat kepada masyarakat untuk selalu giat berusaha, jangan sekali-kali untuk bersifat fatalis. Para pemimpin agama seyogianya memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa takdir hanyalah batas akhir dari upaya manusia dalam meraih prestasi.Dengan demikian para pemimpin agama telah mampu membuktikan kemampuannya untuk berbicara secara rasional dan tetap membangkitkan gairah serta aksi masyarakat dalam meraih sesuatu yang dicita-citakannya.
2. Pemimpin Agama Sebagai Pembimbing Moral
Peran kedua yang dimainkan para pemimpin agama di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan adalah peran yang berkaitan dengan upaya-upaya menanamkan prinsip-prinsip etik dan moral masyarakat. Dalam kaitannya, kegiatan pembangunan umumnya selalu menuntut peran aktif para pemimpin agama dalam meletakkan landasan moral, etis, dan spiritual serta peningkatan pengalaman agama, baikdalam kehiduan pribadi maupun social.
Berangkat dari landasan etis dan moral inilah, kegiatan pembangunan lalu diarahkan pada upaya pemulihan harkat dan martabat manusia, harga diri dan kehormatan individu, serta pengakuan atas kedaulatan seseorang atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai dengan keyakinan dan jati diri serta bisikan nuraninya. Di sinilah kemudian nilai-nilai religius yang ditanamkan para pemimpin agama memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan.
Tuntutan dan patokan yang tertuang dalam kitab suci, teladan para nabi, dan hukum-hukum agama yang merupakan elaborasi dari sabda Tuhan menurut hasil pemikiran para pemuka, pemimpin dan pemikir agama pada masa lalu, mereka jadikan bahan untk membimbing arah kegiatan pembangunan secara menyeluruh.
3. Pemimpin Agama Sebagai Mediator
Peran lain para pemimpin agama yang tidak kalah pentingnya, juga dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan di masyarakat adalah sebagai wakil masyarakat dan seagai pengantar dalam menjalin kerja sama yang harmonis di antara banyak pihak dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya di masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan yang dipimpinnya.
Untuk membela kepentingan-kepentingan ini, para pemimpin agama biasanya memposisikan diri sebagai mediator di antara beberapa pihak di masyarakat, seperti antara masyarakat dengan elite pengusaha dan antara masyarakat miskin dengan kelompok orang-orang kaya. Melalui pemimpin agama, para elite pengusaha dapat memahami apa yang diinginkan masyarakat, dan sebaliknya elite pengusaha dapat mensosialisasikan program-programnya kepada masyarakat luas melalui bantuan para pemimpin agama.
Munculnya kerja sama antara para pemimpin agama di satu pihak dengn kalangan kaya dan penguasa di pihak lain merupakan fenomena social yang umum terjadi di kalangan umat beragama. Dari sudut formal keagamaan, kerja sama para pemimpin keagamaan dengan kalangan hartawan dan dan penguasa ini memang tidak dapat apa-apa. Sebab, sesunggguhnya kerja sama para pemimpin agama dengan kalangan kaya dan penguasa, pada prinsipnya, tidak bisa di nilai buruk. Agama bagaimanapun, merupakan rahmat bagi segenap manusia, tak peduli miskin atau kaya, penguasa atau rakyat jelata,di sinilah pemimpin agama menyadari bahwakerja sama mereka tidak lain adalah untuk kepentingan menegakkan keadilan social dan untuk membeli kepentingan orang-orang kecil.
MAKALAH SOSIAL PENDIDIKAN TENTANG AGAMA DAN GOLONGAN MASYARAKAT
BAB III
KESIMPULAN
Agama mempunyai kaitan yang sangat erat dalam kehidupan bermasyarakat, agama mempunyai fungsi sebagai peranan agama dalam mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat dipecahkan secara empiris karena keternatasan dan ketidakpastian.
Pentingnya keterlibatan pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan ini adalah dalam aspek pembangunan unsure ruhaniah. Dalam pelaksanaanya. Bahkan pemimpin agama dalam berperan lebih luas; bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing. Dan pembei landasan etis dan moral serta menjadi mediator dalam seluruh kegiatan aspek pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Agus, Bustanuddin, Agama dalam Kehidupan Masyarakat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
2. Scharf, R, Betty, Sosilogi Agama, Fajar Interpratama Offset, Jakarta, 2004.
3. Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Download File lengkap makalah agama dan golongan masyarakat versi microsoft Word 2003 dan 2007 klik di download makalah anakciremai
Langganan:
Postingan (Atom)
