CERPEN TENTANG SAKIT HATI BERBUAH NERAKA

KUMPULAN CERPEN

CERPEN TENTANG SAKIT HATI BERBUAH NERAKA


“SAKIT HATI BERBUAH NERAKA”
Hapus airmatamu itu, sayang. Janganlah engkau menangis. Kumohon, tolong berhentilah!
Aku berteriak meminta padanya agar berhenti menangis, namun sia-sia. Suaraku tak terdengar lagi. Bukan karena aku bisu, bukan karena kau tuli. Karena kini, aku hanyalah ruh yang bisa mendengar dan melihatmu tapi kau tidak. Dunia kita berbeda.
Kemarin aku masih bisa memelukmu, kemarin aku masih bisa menciummu, kemarin aku masih bisa menggodamu. Dan kau tersenyum, Cantik sekali. Siapa yang tak kenal model cantik yang kunikahi dua tahun lalu? Perempuan yang digilai banyak lelaki dan aku pria beruntung yang berhasil memenangkan hatimu. Kecantikanmu, ditambah santun dan kesabaranmu saat menghadapiku kala aku berjuang di saat-saat terakhir menambah kemulianmu sebagai istri.
Siapa yang sangka ciuman kemesraan yang kuberikan kemarin adalah hal terakhir yang bisa kuberikan padamu? Aarrggh… sungguh aku ingin waktu bisa kembali dan aku bisa memperbaikinya. Akan kubuat kau menjadi istri paling bahagia. Hanya kau, ya cuma kamu… kekasihku.
Aku selalu berterimakasih karena Tuhan membiarkanku hidup lebih lama dari dugaan semua orang. Kau merawatku dengan baik, mengurusku penuh cinta meskipun kau tak pernah tahu darimana kudapatkan penyakit itu. Tapi dengan kasih sayangmu, kau tetap menjalani tugasmu sebagai istri. Aku benar-benar mencintaimu.
Ketika akhirnya malaikat maut menjemputku, tak henti mulutmu berdoa untukku, tak henti hatimu memohon ampunan untukku. Airmatamu memang masih mengalir, deras membasahi pipimu. Tapi tak pernah sedetikpun saat kau bangun kau berhenti mendoakan suamimu.
Ya Tuhan…. itulah kenapa aku bisa melihatmu walaupun dari kejauhan. Itulah kenapa aku begitu bahagia mendapatkan istri yang begitu tabah sepertimu, istri yang begitu menyayangi dan menghormatiku. Kesolehanmu meringankan langkahku menghadap Sang Pencipta. Karenamu, aku bahagia di sini. Di alam lain yang berbeda denganmu. Kau lapangkan kuburku dengan doa-doa yang kau lantunkan, dengan tangis penuh rasa syukur karena bisa memiliki diriku. Terima kasih istriku… terima kasih…
Kuburanku masih merah, tinggal kau sendiri di sana duduk sambil terus berdoa. Matahari sudah tinggi tapi kau terus di sana. Hatimu berat meninggalkanku. Seakan-akan hatimu sudah ikut terkubur bersama jenazahku. Betapa beruntungnya aku.
Tapi doamu terhenti. Kau mendongak melihat kedatangan seseorang. Dia datang tergesa-gesa, dengan perut besar dipapah seorang wanita setengah baya. Kau berdiri dan menatap perempuan muda itu dengan bingung.
“Kamu siapa?” tanyamu. Aku terperanjat. Dia… Dia… Bukankah dia….
“Kamu siapa?” perempuan muda itu balik bertanya. Ia menatap istriku dengan sinis dan dagu terangkat angkuh.
Kau terdiam sejenak, memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala perempuan itu. Airmatamu tiba-tiba mengering. Kerudungmu melambai-lambai di tengah pemakaman itu.
“Saya… saya istri Jacky. Kamu?” suaramu menjawab penuh keraguan.
Aku ketakutan.
Ya Tuhan, jangan bertanya siapa dia, sayang. Pergilah, tinggalkan perempuan itu! Dia laknat duniaku! Dia pembunuhku! Pergilah! Jauhi dia!
Aku berusaha memberitahu istriku. Namun ia tetap diam, menunggu jawaban dari perempuan muda itu. Aku mulai harap-harap cemas. Semoga perempuan sial itu tak mengatakan. Kumohon, jangan ucapkan.
“Aku Vivian, aku istri Jacky. Dan ini…” Ia menunjuk perutnya. “Anaknya Jacky.” Dan aku terpuruk jatuh. Dia mengatakannya, dengan jelas, pamer dan bangga.
Kau termangu, mulutnya menganga tak percaya. Lalu perlahan kau menggeleng-geleng. “Tidak mungkin! Kau pasti bercanda!”
Iya sayang, dia bercanda. Dia bukan istriku, dia hanyalah simpananku. Dia mengaku hamil dan aku terpaksa menikah dengannya. Jangan percaya padanya, sayang. Aku sudah berencana meninggalkannya seandainya saja maut tak menjemputku.
“Kau tak percaya, hai istri yang mandul?” Vivian merampas tas yang dipegang wanita setengah baya di sampingnya. Dengan kalap ia mengeluarkan beberapa foto, foto-foto saat aku dulu menikahinya di depan penghulu. Foto pernikahan yang teramat sederhana.
Airmata istriku mengalir. Bukan karena menangisi kepergianku lagi. Ia sakit… sakit hati karena dibohongi. Sakit hati karena dihina sebagai perempuan mandul. Aku tahu, dia pasti sakit hati padaku.
Maafkan aku, sayang. Aku bukannya tak sabar untuk menanti buah hati darimu. Bukannya aku tak mencintaimu. Tapi karena suatu malam aku berbuat kebodohan, aku menenggak minuman keras terlalu banyak hingga lupa daratan dan mabuk dalam pelukan perempuan bernama Vivian. Gadis pelacur yang kutemui di diskotik tempatku menghibur diri. Perempuan yang menyebabkan aku terkena penyakit, perempuan yang membunuhku dengan menularkan Aids dalam tubuhku.
Aku masih mencintaimu, istriku sayang. Karena cintalah, aku tak mau lagi menyentuh dirimu. Aku takut menyakitimu dengan menularkan virus itu. Aku memilih tetap bertahan sebagai suami Vivian, agar dia tidak mengadu padamu. Sungguh ini semua kulakukan karena aku mencintaimu.
Tapi kau tak mendengar semua itu. Matamu melotot penuh amarah. Dengan penuh kebencian, kau lemparkan semua foto itu kembali pada Vivian. Vivian yang tersenyum puas karena berhasil membuatmu terluka.
Dan aku… apa itu yang tiba-tiba datang? Bayangan hitam tanpa wajah dan tampak mengerikan itu mendekatiku. Mereka tak mau mendengar permintaanku agar membiarkanku tetap di sisi istriku. Mereka merantai tangan, kaki dan bahkan suaraku tak bisa kudengar lagi. Ada apa ini? Kenapa ini?
Kulihat di kejauhan saat tubuhku mulai melayang pergi bersama dua bayangan hitam itu, istriku meninggalkan pemakaman. Sayup-sayup aku mendengar ia berkata. “Semoga kau membusuk di neraka, Jacky!!! Aku membencimu!”
Dan aku tak bisa berteriak, tubuhku diseret menjauh. Rasa sakit mulai mendera… aah siksa ini.
Istriku, tolong aku!!!! Maafkan aku!! Aku tak mau ke neraka!! aku tak mau!!!
**************

CERPEN TENTANG SAKIT HATI BERBUAH NERAKA

CONTOH CERPEN JATUH CINTA PADAMU LAGI

CONTOH CERPEN JATUH CINTA PADAMU LAGI



JATUH CINTA PADAMU LAGI


Kekasih… Aku tak pernah tahu arti kata itu, sampai aku kenal kamu
Sayang… Aku tak pernah mencurahkannya pada orang lain selain keluargaku
Cinta… It is a bullshit, itu anggapanku sampai aku bertemu kamu
Kunikahimu karena kau cinta padaku. Kuyakini itu sampai aku hidup bersamamu.
Kau beriku segudang pelajaran, tentang hidup, tentang pemahaman, tentang cinta… cinta sejati
Cinta sejati yang bukan untukmu, tapi untukku. Sesuatu yang lebih besar darimu dan aku.
Cinta Allah pada kita. KarenaNyalah kita bertemu… Karena Allah mencintai kita, ia mempertemukanmu denganku.
Dan aku jatuh cinta padamu…
Aku mencintaimu karena kau cinta padaku, kau tunjukkan dengan kasih sayang mengurusiku saat aku berkali-kali berjuang untuk hidup.
kau cintai aku saat aku tersenyum dan saat aku menangis,
Kau pegang tanganku saat ku tak mampu, saat aku terpuruk, saat aku menyerah
Dan aku jatuh cinta padamu…
Ketika tangismu terdengar pertama kali, memintaku memperjuangkan hidupku daripada memperoleh impianmu sendiri.
Ketika kau tak pernah sekalipun tidak mendampingiku, saat berjuang melahirkan putra putri kita.
Ketika kau dengan caramu sendiri, belajar menjadi ayah meskipun kau sendiri tak pernah merasakan kasih sayang itu sepenuhnya.
Ada saat aku hanya ingin menyerah, ada saat hatiku juga pernah patah, ada saat di mana aku merasa berhenti mencintaimu, ada saat aku merasa lelah, ingin berhenti berlari di sampingmu…
Saat langkahmu terlalu cepat, saat langkahku terlalu lambat, saat godaan terlalu banyak, saat emosi terlalu besar. Tapi cintamu… meruntuhkan semua itu.
Satu kata yang akhirnya terucap. “Aku cinta kamu, sayang, Tolong jangan pergi!” cukup hentikan semua itu, dan sekali lagi… aku jatuh cinta padamu….
Hari ini aku jatuh cinta padamu… lagi
Padamu, yang rela langsung menjemputku, meskipun baru pulang kerja dan belum makan apa-apa. Yang tak membiarkan aku pulang dengan taksi karena sudah malam. Yang langsung bertanya kenapa aku tak mengenakan jaket saat pergi tadi. Yang memarahiku karena membawa barang-barang sendirian.
Aku menangis, tapi juga tersenyum. Terharu tapi tak mampu mengungkapkan.
Dan ia memelukku… sambil berkata. “Jangan menangis, saya kuatir bukannya marah, maaf ya jangan diambil hati.”
Terima kasih Tuhan,
untuk lelaki yang memeluk dalam tangisku hari ini,
untuk lelaki yang saat ini menatapku penuh kasih sayang,
untuk lelaki yang ringankan bebanku tanpa bersuara di sisiku,
untuk lelaki yang mencintaiku melebihi diriku sendiri.
Untuk kekasih terbaikku, yang dampingiku tiga belas tahun terakhir ini…

CONTOH CERPEN JATUH CINTA PADAMU LAGI


BY : LIA

CONTOH CERPEN TENTANG DI BALIK SENYUM MU IBU

CONTOH CERPEN TENTANG DI BALIK SENYUM MU IBU



“DI BALIK SENYUM MU IBU”
Darahku mendadak berdesir deras, detak jantungku mengencang, seperti sebuah firasat yang tak kusuka. Apa pun yang terjadi pada Ibu, aku terima.
Vira masih diam. Padahal sudah dua jam kami di sini, menikmati teriakan-teriakan ombak, menyaksikan angin melempar ribuan buih menjauh dari pantai. Aku tak tahu apa yang ada di kepalanya, Vira lebih suka membiarkanku berpikir sendiri daripada membagi apa yang ia rasakan.
“Aku mau pulang,” ujarku bosan.
Vira tak menanggapi.
“Sudahlah, Sayang. Lupakan kesalahannya, ibu hanya manusia biasa yang bisa khilaf,” kucoba membujuk Vira.
“Tapi aku malu, Kak. Kita ini anak-anak tak jelas, punya ibu tanpa tahu siapa bapaknya.” Vira melempar lagi beberapa kerikil ke laut.
“Ibu pasti punya alasan kuat kenapa beliau begitu, kita tanyakan saja nanti.”
“Aku sudah sering melakukannya, dan yang kudapat kemudian adalah hal yang sama. Dia marah. Selalu begitu!”
Aku mendesah panjang. Adikku Vira yang kini sudah bukan siswi SMA lagi ternyata belum juga dewasa. Ia ingin segala sesuatu terlihat apa adanya, mengalir begitu saja. Padahal hidup tak selamanya semudah dan sesimpel itu, tapi sulit menjelaskan padanya. Vira tetap saja bungsu yang rapuh dan manja.
“Pulanglah, Kak. Aku ingin di sini lebih lama,” lirih Vira berucap.
“Hari sudah sore, nanti Ibu mencemaskan kita.”
“Tidak, dia tak pernah peduli. Aku ingin ketenangan di sini.”
“Bukan di sini mencari ketenangan, Vira, ayolah!,” aku menarik tangannya lembut. Walau sempat menolak, akhirnya Vira luluh juga.
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Vira menggelayut di lenganku. Orang-orang yang melihat pasti mengira kami adalah pasangan kekasih, siapa sangka, dua orang yang sama sekali tak mirip ini lahir dari rahim yang sama? Vira memang lebih dekat denganku daripada dengan Mbak Mia, saudara kami satu lagi. Mbak Mia telah bersuami dan tinggal di rumahnya sendiri. Pada saat pernikahan kakak sulung kami itulah terkuak bahwa ternyata bapak dari aku, Vira, dan Mbak Mia adalah orang yang berbeda. Tentu saja kami semua terpukul.
Entah bagaimana bisa ibu membohongi kami begitu lamanya, entah apa yang beliau lakukan hingga bisa memasukkan nama fiktif seseorang pada akta kelahiran ketiga anaknya, dan entah apa yang bisa ibu lakukan untuk mengembalikan perhatian Mbak Mia dan keceriaan Vira. Dua saudaraku memang serta merta memperlihatkan kekecewaan mereka pada ibu. Bukan hanya karena mereka perempuan – yang seringkali mengedepankan emosi daripada logika – tapi memang karena merekalah yang merasakan langsung imbas dari aib ini.
Menjelang pernikahannya, Mbak Mia mendesak ibu untuk memberitahu alamat Pak Suhairi, orang yang namanya tertera pada akta kelahiran kami. Dulu ibu pernah bilang bahwa mereka telah bercerai, dan untuk menambal kebohongannya, belakangan ibu bilang Pak Suhairi telah meninggal, padahal sebelumnya ibu mengatakan tak pernah lagi melakukan kontak dengan orang yang beliau akui sebagai bapak kami itu. Lalu dari mana beliau tahu Pak Suhairi meninggal?.

Usut punya usut, ternyata Pak Suhairi hanyalah kekasih Ibu di masa lampau, ia tak bisa – menurutku tak bersedia – menghadiri pernikahan putrinya karena sedang berada di luar negeri. Pak Suhairi cuma menyampaikan permintaan maaf dan selamat kepada Mbak Mia, sekaligus memberi pernyataan tegas bahwa ia hanya bapak dari Mbak Mia, bukan aku dan Vira. Pantas kami tak mengenal kakek atau nenek selain dari pihak Ibu.
Aku tak peduli semua itu. Bagiku hidup harus terus berjalan, toh semua sudah terjadi. Perbaiki saja yang bisa diperbaiki, dan jangan mengulang kesalahan serupa yang pernah diperbuat di masa lampau. Seburuk apa pun ibu, beliau tetaplah ibuku, yang kurasakan cintanya dari dulu hingga kini. Tapi tidak begitu bagi dua saudaraku.
Tiba di rumah, Vira langsung mengunci diri di kamar. Kulihat ibu pura-pura tak menyadari kehadiran kami. Aku tahu, beliau sedang berusaha menekan rasa sakit atas perlakuan dua anak perempuannya. Tubuh yang kini ringkih itu menyandar lemah di kursi santai ruang tengah, matanya menerawang, mungkin sedang memandang ke masa lalunya yang kurasa pahit.
“Ibu,” sapaku.
Beliau menoleh, senyum lembutnya mengembang terpaksa.
“Maafkan Vira dan Mbak Mia, Bu.” Kuambil tangan ibu yang tak lagi halus, dan meletakkannya ke atas pangkuanku.
“Memang sudah sepantasnya begitu. Ibu ingin memberitahu sesuatu padamu, To.”
“Tidak perlu, Bu. Ibu tidak usah menjelaskan apa-apa. Anto tetap sayang Ibu, Anto tidak akan pernah menebak yang macam-macam tentang masa lalu Ibu, seperti yang Mbak Mia dan Vira tuduhkan.”
“Tapi itulah kenyataannya, Nak.” Sontak airmata ibu mengalir.

Aku terperangah tak percaya. Setahuku ibu adalah perempuan yang baik, relijius malah. Mana mungkin ibu bergelut dalam dunia malam seperti yang Mbak Mia dan Vira katakan. Mbak Mia termakan ucapan bapaknya, Pak Suhairi, yang bilang bahwa bapakku dan bapak Vira adalah orang yang berbeda. Tapi laki-laki pengecut itu tak menceritakan selebihnya, hanya membuka aib. Apakah dulu, ketika ia bersama ibuku, ia tak merasakan kebaikan perempuan itu? Mustahil.
“Dulu, setelah gagal menuntut pertanggungjawaban Suhairi atas Mia, Ibu mencari laki-laki lain yang bersedia menampung kami, karena kakek dan nenek kalian tak mau menerima Ibu kembali,” ibu melanjutkan. “Seorang kenalan kemudian membawa Ibu ke rumahnya, dan tanpa Ibu sadari, ternyata ia menjual Ibu kepada seorang mucikari. Setelah itu…” ibu terisak.
“Sudahlah, Bu. Jangan diteruskan jika itu menyakitkan,” kucegah Ibu melanjutkan, karena telinga, kepala, dan hatiku merasa tersayat.
“Dengarkan, Nak! Barangkali ini kesempatan terakhir Ibu menyampaikannya.”
“Kenapa Ibu bicara begitu?”
Ibu tak mempedulikan protesku. “Ibu terjebak pelacuran, selama itulah kamu dan Vira lahir.”
Aku terhenyak sesaat, “Demi Tuhan, Anto tidak menyalahkan Ibu, Anto tahu Ibu terpaksa.”
“Tapi kenapa Ibu tidak mencoba untuk kabur dari sana?” tiba-tiba Vira sudah berada di belakang kami. Kulihat matanya memerah.

“Mia disandera mucikari itu, Nak. Ibu baru bisa lepas darinya setelah menyerahkan semua uang yang Ibu kumpulkan dari Mia belum lahir sampai ia memasuki usia sekolah dasar. Itulah sebabnya kalian terlambat masuk sekolah, Ibu harus mengumpulkan uang dulu untuk itu. Tentu saja dengan cara yang lebih baik, menjadi pembantu rumah tangga.”
Sekonyong-konyong Vira mendekap ibu, airmatanya tumpah. Hatiku bergemuruh, rahangku mengatup kuat menahan ledakannya.
“Kenapa Ibu menyembunyikan semua itu selama ini?” Vira masih saja bertanya dalam tangisnya.
“Ibu malu, tapi akhirnya Ibu merasa bersalah telah membohongi kalian. Dan di akhir usia yang takkan lama ini, Ibu minta kalian memaafkan Ibu.”
“Tentu saja kami memaafkan Ibu.” Kucium punggung tangan Ibu yang masih di pangkuanku.
“Sampaikan juga maaf Ibu untuk Mia.”
“Justru Mbak Mia dan Vira yang seharusnya meminta maaf pada Ibu karena telah berprasangka buruk,” isak Vira makin membuncah.
Telepon di sebelahku berdering, segera kuangkat, “Halo.”
“Anto, kamu harus cepat memeriksa kesehatanmu,” suara Mbak Mia tergesa.
“Ada apa, Mbak?”
“Kata Pak Suhairi, Ibu terinfeksi ha-i-ve!”
Aku menahan napas sejenak dan membuangnya perlahan.

“Anto, kamu dengar, kan?”
Kuletakkan gagang telepon, kembali fokus pada Ibu dan Vira. Kedua orang terkasih itu tak perlu tahu kabar apa yang kudapat. Pak Suhairi jangan sampai memperbesar luka dalam diri Ibu karena puluhan tahun silam, apalagi menambah luka itu di masa kini.
“Dari Mbak Mia-mu, kan?”
Aku hanya mengangguk, tak mampu membohongi Ibu dan tak tega pula untuk jujur.
“Apa katanya?”
“Tidak penting, Bu. Teruskan saja pembicaraan dengan Vira, Anto mau ke dalam dulu.” Aku hendak pamit, tapi Ibu cepat menangkap lenganku.
“Tunggu dulu, ada yang harus Ibu sampaikan sebelum terlambat.”
Darahku mendadak berdesir deras, detak jantungku mengencang, seperti sebuah firasat yang tak kusuka. Apa pun yang terjadi pada Ibu, aku terima. Sekalipun jika aku turut terinfeksi, tak apa, aku bertekad dalam hati.
“Tak lama lagi Ibu akan meninggalkan kalian, karena…”
“Karena apa, Bu?” Vira memotong tak sabar.
“Ibu positif ha-i-ve.”
Vira terkulai di hadapan Ibu, ia seperti kehabisan tenaga, pun untuk sekadar melanjutkan tangisnya.
“Tapi tenang saja, Ibu mendapatkannya setelah kalian lahir, dan Ibu sengaja tidak menyusui anak-anak Ibu karena tahu ada penyakit yang bisa saja tertular pada kalian.”
Andai Mbak Mia ada di sini, bagaimana mungkin ia tidak menangis dan menyesali apa yang telah diperbuatnya pada Ibu. Perempuan paruh baya itu kini tengah menjelang maut, tapi ia tampak tegar. Tentu saja, karena aku dan ibu percaya, dengan atau tanpa penyakit itu, setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Kutekan beberapa tombol di telepon, meminta Mbak Mia untuk mendengarkan langsung kebenaran dari mulut Ibu, bukan dari bapaknya yang tak bertanggungjawab itu. Di sampingku, Vira kian dalam membenamkan kepalanya ke pelukan Ibu.


CONTOH CERPEN TENTANG DI BALIK SENYUM MU IBU


BY: LIA

KISI - KISI UJIAN NASIONAL NASIONAL SKL 2012

Sebentar lagi ujian nasional akan segerera dilaksanakan siap belum siap kita harus lakukan khususnya bagi para siswa/siswi yang sebentar lagi mau mengadapi UAN yap................. ok berikut dibawah silahkan di unduh kisikisi ujian nasional 2012

Unduh data Kisi-kisi Ujian Nasional 2012

Untuk penjabaran Kompetensi dan Indikator Soal yang akan ditanyakan, sebaiknya Bapak-ibu unduh kisi-kisi soal Ujian Nasional 2012 dari BSNP melalui link berikut ini.
  1. Kisi-kisi Ujian Nasional 2012unduh disini
  2. POS UN 2012unduh disini
  3. TanyaJawab seputar UN 2012unduh disini